Manusia purba Jawa di Eropa



http://cahpamulang.blogspot.com/2008/07/manusia-jawa-purba-pernah-bermukim-di.html

Manusia Jawa Purba Pernah Bermukim di Eropa


Liputan6, Hanover: Manusia Jawa purba berspesies homo erectus diduga
pernah bermukim di Eropa. Demikian kesimpulan Guru Besar Arkeologi
Universitas Tuebingen, Jerman, Alfred Czarnetzki, atas pecahan tulang
tengkorak yang ditemukan di sebuah tambang di Leinetal, Hanover.



"Usianya paling tidak 700 ribu tahun dan bisa jadi, ia merupakan
kembaran Manusia Jawa ," kata Czarnetzki, baru-baru ini.



Pecahan tulang tengkorak itu ditemukan pemburu fosil, Karl-Werner
Frangenberg, pada 2002. Dua tahun kemudian, istri Frangenberg,
menemukan bagian pelipisnya.



Semula, pecahan tulang itu diyakini sebagai warga Asia. Sehingga
memicu spekulasi, manusia purba Asia pernah menjajah Eropa.



Sedangkan Manusia Jawa merupakan sebutan untuk fosil berspesies homo
erectus, yang ditemukan Eugene Dubois pada 1891 di Trinil, tepian
Bengawan Solo. Dubois menamakannya Pithecanthropus Erectus, yang dalam
bahasa Latin berarti manusia kera berjalan tegak.





Czarnetzki mengaku kesulitan mengukur usia fosil itu secara tepat.
Namun ia yakin, ada kesamaan antara temuan Frangenberg di tambang itu
dan fosil temuan Dubois atau Manusia Jawa. "Meski tak ditemukan DNA,
namun ada jejak protein dalam fosil itu," katanya.



Manusia Jawa temuan Frangenberg itu menjadi fosil tertua yang
ditemukan di Jerman. Fosil tertua lainnya, Homo Heidelbergensis,
berusia sekitar 600 ribu tahun dan ditemukan pada 1907.(SHA/ANTARA)

=================

http://masenchipz.com/manusia-jawa-pernah-mendiami-eropa

http://primantoro.web.id/?p=114



Manusia jawa pernah mendiami Eropa



Pecahan tulang tengkorak yang ditemukan di sebuah tambang Jerman

ternyata berasal dari Manusia Jawa, manusia purba yang sebelumnya

diyakini merupakan penduduk asli Asia, sehingga memicu spekulasi

bahwa manusia purba Asia pernah menjajah Eropa.

Alfred Czarnetzki, seorang profesor di Universitas Tuebingen,

mengumumkan Kamis lalu bahwa kerangka tersebut, yang ditemukan

pada 2002, “usianya paling tidak 700.00 tahun” dan begitu mirip

Manusia Jawa “sehingga boleh jadi merupakan kembarannya”.

Tulang tengkorak itu berasal dari spesies Homo erectus, di mana

manusia modern dikenal sebagai Homo sapiens, yakni manusia yang

sudah berbudaya.

Manusia Jawa adalah nama yang diberikan kepada fosil yang

ditemukan pada 1891 di Trinil, tepian Bengawan Solo. Fosil ini

merupakan salah satu spesimen Homo erectus atau manusia purba

berjalan tegak yang paling pertama dikenal.

Penemunya, Eugene Dubois, memberikan nama ilmiah Pithecanthropus

erectus, sebuah nama yang berasal dari akar Yunani dan Latin yang

berarti manusia kera berjalan tegak.

Karl-Werner Frangenberg, seorang pemburu fosil, menemukan bagian

atas tengkorak pada 2002 di sebuah lubang batu di Leinetal dekat

Hanover. Istrinya, yang memiliki hobi sama, menemukan bagian

pelipis dua tahun kemudian.

Sama dengan fosil Trinil

Tulang belulang itu, yang kini diyakini merupakan kerangka manusia

tertua yang pernah ditemukan di Jerman, saat ini dipamerkan di

Museum Hanover.

Kerangka tertua Jerman sebelumnya adalah spesies lain, yakni Homo

heidelbergensis, yang ditemukan pada 1907 dan berusia sekitar

600.000 tahun.

Czarnetzki mengakui kesulitan mengukur usia fosil secara tepat,

namun dirinya merasa yakin dengan kesamaan pada penemuan fosil

manusia purba di Jawa pada 1891.

“Penemuan ini mengindikasikan bahwa manusia purba Asia pernah

menyebar ke Eropa,” katanya, seraya menambahkan artikelnya

mengenai penemuan tersebut telah diakui Journal of Human Evolution

dan akan segera diterbitkan.

Ia mengemukakan tak ditemukan DNA dalam pecahan tulang itu, namun

ada jejak protein.

===========
http://triy.wordpress.com/2009/01/18/manusia-jawa-nenek-moyangnya-manusia-modern/

Manusia Jawa : Nenek Moyangnya Manusia Modern



Darimanakah manusia berasal…?? Suku Maori (suku asli Selandia Baru)
menganggap dahulu langit dan bumi menyatu. Semesta diselimuti gelap
gulita. Manusia adalah hasil dari pemisahan langit dan bumi karena
ulah putra bumi dan langit yang menginginkan cahaya dan mengerahkan
kekuatannya untuk memisahkan ayah dan ibunya. Sehingga manusia yang
tadinya berada di dalam kegelapan mulai terlihat.

Sementara dalam dongeng Jerman, dewa langit dan dewa lainnya suatu
hari sedang berjalan-jalan di tepi pantai. Pada suatu gundukan pasir
mereka melihat dua buah pohon dan merubahnya menjadi manusia.

Lalu ketika zaman berganti, muncul pula Darwin dengan teori evolusi
yang mengatakan manusia berasal dari kera. Teori ini perlahan mulai
diterima manusia. Banyak orang berpendapat manusia adalah hasil dari
suatu perubahan genetik selama berjuta-juta tahun dari suatu sosok
makhluk hidup yang bernama kera.

Namun sama halnya dengan dongeng-dongeng yang diceritakan pada awal
kisah tadi, orang-orang mulai bertanya, darimanakah atau dimanakah
tepatnya awal dari proses evolusi itu terjadi…?

Manusia dari Eropa..?



Di abad-abad terakhir ini, orang beranggapan, benua Eropa adalah
tempat berasalnya manusia. Hal ini bukannya tidak beralasan. Di eropa
bagian barat banyak ditemui tempat-tempat peninggalan prasejarah. Di
kurun waktu 1823 hingga 1925 ada sekitar 116 peristiwa penemuan tulang
belulang manusia purba. Di antaranya ada ditemukan tulang kera yang
berubah menuju bentuk manusia. Namun tetap aja, itu tulang-tulang
kera.

Sementara sisa-sisa zaman batu (telah melewati masa evolusi), kurang
lebih ada 236 peristiwa penemuan di seluruh Eropa. Lalu di Prancis
pada tahun 1856, ditemukan fosil manusia kera. Fosil itu dianggap
sebagai fosil terlama yang ditemukan di masa itu. Maklumlah, saat itu
riset yang dilakukan di Asia dan Afrika belum memberikan hasil yang
maksimal. Jadi, bisa disimpulkan, Eropa lah tempat awal terjadinya
proses evolusi itu. Apalagi para ilmuwan di Eropa saat itu tampaknya
lebih memilih tempat tinggalnya sebagai tempat asal muasal manusia dan
mengenyampingkan kemungkinan-kemungkinan geografis benua lain yang
mungkin lebih unggul seperti Asia dan Afrika.



Namun pada akhir abad 19, seorang berkebangsaan Belanda bernama Eugene
Dubois (1858-1940), berhasil menghadirkan penemuan yang luarbiasa di
sini, di Indonesia. Eugene dan penemuannya adalah orang yang
pertamakali menentang teori manusia pertama berasal dari Eropa.

Eugene Dubois adalah seorang dokter penganut setia teori evolusi milik
Darwin. Dokter muda ini memiliki semangat luarbiasa hingga mampu
menutupi (lebih tepatnya menemukan) kekosongan proses evolusi antara
kera ke manusia. Ia percaya di Asia pasti ditemukan fosil yang lebih
tua dari eropa.

Pada tahun 1887 dengan hati yang menggebu-gebu dokter Belanda ini
datang ke pulau Jawa. Eugene bekerja pada sebuah rumah sakit. Pada
waktu senggang ia tak segan-segan merogoh koceknya untuk menyewa 50
orang tahanan pribumi dan bersama-sama berjalan menyusuri tepi kiri
dan kanan Bengawan Solo sambil meneliti lokasi potensial yang mungkin
menyimpan tulang belulang manusia purba.

Siapa menyangka, pekerjaan yang nyaris tak mungkin itu membuahkan
hasil. Dokter muda yang basicnya bukan seorang arkeolog ini,
mendapatkan hasil yang menggemparkan dunia. Suatu hari di tahun 1890
di suatu lokasi di sekitar Bengawan Solo (daerah Sangiran), Eugene dan
teman-temannya menemukan sepotong kerangka rahang atau geraham manusia
purbakala.

Kemudian setahun berikutnya (1891) di kampung Trinil-Solo, mereka
kembali menemukan batok kepala atau tengkorak manusia purbakala yang
mencirikan kera. Selanjutnya di tahun 1892, kelompok Eugene menemukan
tulang kaki manusia purba yang mirip kaki manusia modern. Dari bentuk
tulang kaki itu, bisa disimpulkan pemilik tulang tersebut sudah bisa
berjalan dengan kedua kakinya.

Setelah penemuan-penemuan itu Eugene mengambil kesimpulan, tengkorak
atau batok kepala dan kaki itu adalah milik satu orang yang sama. Dan
orang itu adalah nenek moyang dari manusia yang ada sekarang. Dengan
kata lain, tulang belulang dari pertengahan mata rantai teori evolusi
milik Darwin.

Pada tahun 1894 Eugene Dubois membuat semacam makalah yang berisi
laporan hasil penelitiannya. Ia menamakan fosil itu sebagai “manusia
kera yang berdiri” atau manusia Jawa. Belakangan, dunia arkeolog
menyebutnya dengan Pithecanthropus Erectus.

Setelah penemuan itu dipublikasikan, timbullah pertentangan yang hebat
di kalangan para ilmuwan di masa itu. Teori manusia berasal dari
daratan Eropa yang selama ini membuai para ilmuwan, seakan terbantah
oleh penemuan yang luarbiasa dari Eugene Dubois.

Para ilmuwan yang mendukung teori manusia dari Eropa dibuat gelisah
dan tak bisa duduk dengan tenang. Mereka pun menyatakan tidak percaya
dengan penemuan Eugene dan mencurigainya. Beberapa di antara para
ilmuwan malah berasumsi bahwa fosil yang ditemukan Eugene di Indonesia
adalah sepotong tulang dari kera atau hewan sejenis. Sedangkan yang
lainnya menganggap fosil itu adalah tulang belulang manusia cacat.

Sayangnya, selain manusia Jawa temuan Eugene, tidak ada penemuan lain
di benua Asia maupun benua Afrika. Akibatnya, di tengah kerasnya
bantahan para ilmuwan Eropa, laporan Eugene lenyap. Sehingga teori
yang dilontarkan Eugene hilang selama kurang lebih 30 tahun lebih.

Namun ternyata waktu juga yang berhasil menghalau kabut yang menutupi
kebenaran teori Eugene. Seiring memasuki abad 20, makin banyak terjadi
penemuan fosil manusia purba di sekitar kawasan tempat Eugene Dubois
melakukan penggalian. Akhirnya, teori yang menyatakan manusia berasal
dari Eropa, hanya tinggal cerita dongeng saja.

Manusia Jawa yang diperkirakan hidup antara 700.000 hingga 1.200.000
tahun lalu, akhirnya diakui sebagai penemuan manusia purba yang
berusia paling tua. Jerih payah Eugene Dubois dinilai sangat
bermanfaat bagi perkembangan ilmu Arkeologi. Namanya serta penemuannya
yang spektakuler, dicantumkan dalam buku sejarah.

Mungkin dalam dunia scient, orang beranggapan Afrika adalah daratan
yang tertua. Namun penemuan Eugene dan teman-temannya di Indonesia,
layak dihormati. Lagipula, belum ada penemuan sekaliber Eugene Dubois
di Afrika hingga saat ini. (berbagai sumber)


Sangiran, Gudang Fosil Purbakala Kelas Dunia



Sangiran adalah situs warisan dunia. Tidak ada yang dapat menyangkal
hal itu. Di mata orang awam, Sangiran memang tidak sekondang
Borobudur. Sebab utamanya berpulang ke daya tarik visual. Orang yang
Borobudur sudah memenuhi benaknya dengan bayangan hal-hal aneh, megah
atau menakjubkan. Sesampai di tujuan yang mereka lihat mungkin berbeda
namun tidak berselisih jauh dari bayangan.

Calon pengunjung Sangiran dengan isi kepala serupa pasti akan kecewa.
Peminat kepurbakalaan (utamanya pelajar-mahasiswa) pun kerap melihat
situs yang namanya perkasa di peta evolusi ini ‘lebih ramai cerita
ketimbang pentasnya’. Namun, tak dapat dipungkiri, tempat ini adalah
gudangnya fosil purbakala sejak penemuan Eugene Dubois. Temuan fosil
di situs Sangiran memiliki arti signifikan dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.

Tapi jangan lupa, khususnya bagi Indonesia, ilmu yang membahas fosil-
fosil itu kurang populer. Untuk mudahnya, bukan ilmu yang bisa
(langsung) menghasilkan uang. Mayoritas dari kita, diakui atau tidak,
bersekolah untuk mendapat pekerjaan, demi mengasapi dapur dan syukur-
syukur bisa mengubah nasib. Bidang studi yang dijubeli calon mahasiswa
hingga hari ini belum bergeser dari teknik, kedokteran, ekonomi dan
hukum. Akibatnya apresiasi bagi situs Sangiran hanya sekadarnya.

Sangiran terletak 20-an km di utara Solo. Cara termudah untuk
mengunjungi museum Sangiran adalah dengan naik sepeda motor. Bila
memakai angkutan umum, dari terminal Tirtonadi, Solo, orang bisa naik
bis jurusan Purwodadi (bis besar) atau Gemolong (bis 3/4). Bilang pada
awak bis untuk turun di Kalijambe, di pertigaan ke Sangiran. Dari
pertigaan ke museum dengan ojek.

Museum Sangiran dilengkapi dengan gedung pertunjukkan. Bila kuota
peminat tercukupi, VCD “The Foot Print of Fore Fathers” akan diputar.
Tayangan berdurasi 20 menit itu padat informasi. Pembentukan kubah
Sangiran karena aktivitas Gunung Lawu purba, pelapukan karena hujan,
terkelupasnya lapisan tanah, tereksposnya fosil, muncul berturut-turut
di layar.

Di bagian kedua ada episode keluarga Pithecanthropus memburu Stegodon
Trigonochepalus (gajah purba berkepala bentuk segitiga). Antara nonton
VCD dan kunjungan ke museum mestinya satu paket. Urutannya pun tak
boleh di balik. Menikmati VCD di sini untuk mengasah apresiasi.
Setelah itu, sembari mengamati fosil-fosil di balik etalase, imajinasi
akan lebih hidup(Harian : Global)

Ditulis dalam Fenomena by Harian Global Medan
.



Relevant Pages

  • Re: Anak Allah adalah Kuasa Allah!!!!
    ... berikan kepada manusia untuk memikirkan ttg siapa Dia, ... Allah adalah Kehidupan semata-mata, didalam Dia tidak ada kematian, ... seandainya dari wilayah terbatas ini manusia bisa mengenal Allah ... Darimana mengetahui seseorang disebut manusia pilihan dan orang lain ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Re: Manusia purba Jawa di Eropa
    ... Artikel yang terakhir, artikel yang ketiga, yang berasal dari harian ... TUA daripada manusia purba Jawa. ... Manusia Jawa Purba Pernah Bermukim di Eropa ... "Usianya paling tidak 700 ribu tahun dan bisa jadi, ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Re: Anak Allah adalah Kuasa Allah!!!!
    ... Kasihilah sesamamu Manusia seperti dirimu sendiri ... Lamtaran Yesus blon lahir kutika ... Abraham, Ishak dan Yakub idup. ... nggak cocok sama realita, maka nama-é ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Re: Islam adalah Agama Sempurna
    ... Tidak ada menjadi Ada ... yakin itu benar2 ciptaan ALLAH, kenapa anda tidak percaya bahwa Nyawa ... Semua manusia, rohnya berasal dari Tuhan. ... saya dan Nabi Isa AS. ...
    (soc.culture.indonesia)
  • TERBUKTI Yesus itu Tuhan. Alkitab & Alquran menjelaskan FAKTANYA!
    ... MEMBUKTIKAN bahwa Yesus adalah 100% manusia dimana Tuhan yg menjelma ... Yesus itu bukan menjadikan Yesus 50% manusia dan 50% Tuhan; ...
    (soc.culture.indonesia)