Re: menepis kebohongan si parlindungan



On 6 feb, 17:31, "barayun" <hlu...@xxxxxxxxxxxx> wrote:
OLEH : Ekmal Rusdy

Majalah Tempo 21 Oktober 2007 memuat ".petisi ini mendesak Pemerintah
Indonesia untuk membatalkan pengangkatan Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan
perjuangan kemerdekaan Imam Bonjol adalah Pimpinan Gerakan Wahabi Paderi.
Gerakan ini memiliki aliran yang sama dengan Taliban dan Al-Qaida. Invasi
Paderi ke tanah Batak menewaskan ribuan orang". Dibagian lain pada halaman
56 dikatakan "pakaian mereka serba putih". Persenjataannya cukup kuat.
Mereka menurut Parlindungan, memiliki meriam 88 militer bekas milik tentara
Napoleon yang dibeli second hand di Penang. Dua perwira Paderi dikirim
belajar di Turki. Tuanku Rao, yang aslinya seorang Batak bernama Pongki
Nangol-ngolan Sinambela, dikirim untuk belajar taktik Kavaleri. Tuanku
Tambusai, aslinya bernama Hamonangan Harahap, belajar soalperbentengan.
Pasukan Paderi juga memiliki pendidikan militer di Batusangkar.
Penulis menilai, petisi dan statemen diatas sangat sensitive dan berbahaya.
Disayangkan dimuat Majalah Tempo, Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan 1964
mengarang sebuah buku berjudul " Tuanku Rao"yang selanjutnya disanggah Hamka
(1974) dalam bukunya berjudul " Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao" setebal
364 halaman. Hamka menuding isi buku Parlindungan ini 80 persen bohong,
sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya setiap kali Hamka
menanyakan data buku ini, Parlindungan selalu menjawab "sudah dibakar".
Selain itu Hamka pada halaman 64 mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang
dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitive pernyataan selama 300
tahun Minangkabau telah menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut
Hamka dusta besar. Alasan untuk pemurnian Islam di Minangkabau ini disebut
Parlindungan sebagai pembantaian bagi pengikut Syiah, sementara keluarga
Kerajaan Pagaruruyung termasuk sebagai penghalang cita-cita Darul Islam,
sehingga pada 1804 keluarga Istana Pagaruyung dibantai, ribuan rumah
dibakar. Maka tak heran kalau referensi Parlindungan yang menggunakan bahan
milik Residen Poortman ini mendapat kecaman keras dari parlemen Belanda
(1985), malah Pemerintah Belanda memerintahkan untuk melarang beredarnya
buku Tuanku Rao yang penuh kebohongan ini.
Poortman posisinya sama dengan Snouck Horgronje. Snouck adalah seorang rang
ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda, sedangkan
Poortman seorang Ahli Batak yang pension pada 1930 dan kembali ke Belanda..
Sesungguhnya Parlindungan bukanlah sejarawan. Dia yang besar bual ini memang
banyak menulis tentang Tuanku Tambusai, tapi dimana makamnya Tambusai saja
dia tak tahu,

malah membuat Statemen aneh yang mengatakan masyarakat Padang Lawas yakin
betul Tuanku Tambusai "belum mati dan bersembunyi di Dabuan Ulu". Atau akan
muncul lagi di akhir zaman ?
Bohong Parlindungan juga terbaca dari pemutar balikan fakta dari referensi
yang digunakan, misalnya yang diperolehnya dari Schnitger, seorang
Antropholog Belanda, maupun JB Neuman dalam bukunya Het Panai en Bila
Stroomgebied yang dimuat dalam majalah geografi kerajaan Belanda tahun 1885,
1886, 1887 menyebutkan bahwa yang disebut Tongku (maksudnya Datuk Engku atau
Tuk Ongku) ini orangnya kaya dengan sifat lemah lembut, lebih memperlihatkan
maksud ingin mencapai persetujuan daripada kekuatan. Bukan sebagaimana yang
ditulis Tempo (21/10/07) halaman 61, sebagai tukang bantai. Dan tidak benar
pula dikatakan "jika penduduk tidak serta merta mau masuk Islam akan segera
dibunuh". Memang Tuanku Tambusai tak hanya sebagai sosok perang yang paling
ditakuti Belanda, karena dari berbagai medan pertempuran yang dilalui Tuanku
Tambusai, sungguh cukup meyibukkan kaum penjajah, sebagaimana diucapkan D
Brakel dalam bukunya De oolog in Ned. Indie, Arnheim (1985) yang menyatakan,
"selama perang Paderi, dua tokoh yang menyebabkan Belanda harus berjuang
keras untuk begitu lama: Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai. Tanpa kedua
orang ini, peperangan bisa dihabisi dalam waktu yang lebih singkat dengan
kemenangan pihak Belanda".
Namun beliau juga adalah juga seorang ulama yang santun dalam menyiarkan
agama Islam, terutama bagi yang masih menganut ke percayaan pebegu . Buku
Tuanku Rao karangan Ir. Mangaraja Onggang Parlindungan saja tak layak dan
berbahaya untuk dibaca, bagaimana pula dengan buku kedua berjudul "Greet
Tuanku Rao" yang ditulis Basyral Hamidy Harahap yang terbit September 2007
ini? Ketua Jurusan Perpustakaan UI 1965-1976 ini ingin mengoreksi tentang
Tuanku Rao yang dianggap kurang tepat, tapi pada garis besarnya, ia
sependapat bahkan menambahkan data kekerasan yang dilakukan Paderi. Sumber
utama dari Parlindungan saja data dan faktanya sudah dibakar, sehingga
selaku penulis yang terlihat bersikap ambivalens perlu kita pertanyakan
kesehatan cara berpikirnya, atau sekedar mencari sensasi murahan? Bukankah
penulis yang bermarga Harahap juga berkomentar miring tentang Tuanku
Tambusai yang katanya bernama Hamonangan Harahap?
Nama Tuanku Tambusai didaerah Tapanuli Selatan mempunyai arti khusus, bahkan
beliau disapa Ompu Baleo yang artinya Tuanku Beliau. Sekarang nama beliau
diabadikan sebagai nama Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Tapsel yang
kita bisa dapatkan disana tertulis PDAM Tambusai. Seharusnya adalah PDAM
Tuanku Tambusai, karena

Tambusai adalah nama kecamatan di Rokan Hulu. Tulisan PDAM Tambusai penulis
temui di Sipirok yang kini penduduknya lebih 70 persen Islam. Disana malah
ada Pondok Pesantren yang justru banyak menerima santri dari Provinsi Riau,
asalnya Tuanku Tambusai.
Sebaiknya mari kita lihat kembali dengan pikiran dan wawasan yang luas,
betapa nilai kejuangan jatidiri anak Melayu dari Desa Tambusai bernama
Muhammad Saleh ini, sebagaimana hasil perburuan naskah sejarah para ahli di
museum sejarah baik di museum nasional di Jakarta maupun di Leiden, Belanda,
yang dapat terbaca lewat tulisan penulis militer Belanda yang terlibat
langsung sebagai "pelaku sejarah" yaitu Gubernur Militer Michiels dan
menantunya yang juga ahli strategis bernama Van Der Hart, maupun penulis
Belanda seperti JB Neuman, D Brakel, EB Kielstra, HM Lange dan seorang
Antropolog terkenal bernama Schnitger. Tidak ada alasan Tuanku Tambusai
"tidak popular di Riau" kecuali bagi orang-orang yang "Tidak tahu bahwa
dianya tidak tahu". Semoga tulisan ini menjadi "obat" bagi yang lupa akan
jasa anak jati diri Melayu ini yang untuk pertama kali telah menempatkan
potret dan jati diri Anak Melayu Riau itu kedalam album nasional yang
sejajar dengan suku bangsa lainnya di Indonesia dalam menegakkan NKRI yang
kita cintai. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan
mengenang jasa pahlawannya sendiri?

sayanyah dah cari bibliotheek di Leiden inih, nggak adah bahan
(catatan) nyang kayak gitu.
tapi dalem salah satu tolisan temtang Ngèndonesah adah disinggung buku
"Tuanku Rao" ditulis oleh O.M Parlindungan, trebitan pratama taon
Jakarta,1965, tapi adah catetan "niet wetenschappelijk
bevestigd" (secara ilmiah tidaklbelum teruji). Selanjutnyah
disebotken, adah di exlibris Amsterdam Openbaar Bibliotheek
(prapustakaan umum di Amsterdam). Tapinyah sayanyah males bresengajah
ka sonoh.

jadi yah ... iku kayak-é nyang nolis oom-é si mBill nyang lagih iseng
ajah.
buwat dinikmatin ponak-an-é nyang dongok.
jadi, samah ajah smah novèl-é si salman.
ya biyar ajah. si mBill soka samah nyang klèru-klèru.
.