Ajaran Paulus : DENGAN ROH , manusia mematikan keinginan daging, shg Manusia yg tidak sempurna akan HIDUP



Dengan Roh manusia mematikan perbuatan- perbuatan tubuhmu, kamu akan
hidup ... Roh membantu kita dalam kelemahan kita" (Roma 8:3,12,13,26).

AYAT ALKITAB ROMA 8:3-26 (VERSI BAHASI INDONESIA SEHARI-HARI)
8:3 Apa yang tidak dapat dilakukan oleh hukum agama, karena kita
manusia lemah, itu sudah dilakukan oleh Allah. Allah mengalahkan kuasa
dosa dalam tabiat manusia dengan mengirimkan Anak-Nya sendiri, yang
datang dalam keadaan sama dengan manusia yang berdosa, untuk
menghapuskan dosa.
8:4 Allah melakukan itu supaya kehendak-Nya yang dinyatakan dalam
hukum agama Yahudi itu dapat dijalankan dalam diri kita yang hidup
menurut Roh Allah dan bukan menurut tabiat manusia.
8:5 Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, terus memikirkan
apa yang diinginkan oleh tabiat manusia. Tetapi orang-orang yang hidup
menurut Roh Allah, terus memikirkan apa yang diinginkan oleh Roh
Allah.
8:6 Kalau pikiranmu dikuasai oleh tabiat manusia, maka akibatnya
kematian. Tetapi kalau pikiranmu dikuasai oleh Roh Allah, maka
akibatnya ialah hidup dan kedamaian dengan Allah.
8:7 Orang yang pikirannya dikuasai oleh tabiat manusia, orang itu
bermusuhan dengan Allah; karena orang itu tidak tunduk kepada hukum
Allah; dan memang ia tidak dapat tunduk kepada hukum Allah.
8:8 Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, tidak dapat
menyenangkan Allah.
8:9 Tetapi kalian tidak hidup menurut tabiat manusia. Kalian hidup
menurut Roh Allah--kalau, tentunya, Roh Allah sungguh-sungguh memegang
peranan di dalam dirimu. Orang yang tidak mempunyai Roh Kristus, orang
itu bukanlah kepunyaan Kristus.

8:10. Tetapi kalau Kristus hidup di dalam dirimu, maka meskipun
badanmu akan mati karena dosa, namun Roh Allah memberikan hidup
kepadamu, sebab hubunganmu dengan Allah sudah baik.
8:11 Kalau Roh Allah, yang menghidupkan Kristus dari kematian, hidup
di dalam dirimu, maka Ia yang menghidupkan Kristus dari kematian itu,
akan menghidupkan juga badanmu yang dapat mati itu. Ia melakukan itu
dengan Roh-Nya yang hidup di dalammu.
8:12 Itulah sebabnya, Saudara-saudara, kita mempunyai tanggung jawab;
tetapi bukan tanggung jawab kepada tabiat manusia; kita tidak perlu
hidup menurut keinginannya.
8:13 Karena kalau kalian hidup menurut tabiat manusia, maka kalian
akan mati; tetapi kalau dengan kuasa Roh Allah, kalian terus saja
mematikan perbuatan-perbuatanmu yang berdosa, maka kalian akan hidup.
8:14 Orang-orang yang dibimbing oleh Roh Allah, adalah anak-anak
Allah.
8:15 Sebab Roh, yang diberikan oleh Allah kepada kalian, tidaklah
membuat kalian menjadi hamba sehingga kalian hidup di dalam ketakutan.
Sebaliknya Roh Allah itu menjadikan kalian anak-anak Allah. Dan dengan
kuasa Roh Allah itu kita memanggil Allah itu, "Bapa, ya Bapaku!"
8:16 Roh Allah bersama-sama dengan roh kita menyatakan bahwa kita
adalah anak-anak Allah.
8:17. Nah, kalau kita adalah anak-anak-Nya, maka kita pun adalah ahli
waris-Nya yang akan menerima berkat-berkat yang disediakan Allah untuk
anak-anak-Nya. Kita akan menerima bersama-sama dengan Kristus apa yang
sudah disediakan Allah bagi-Nya; sebab kalau kita menderita bersama
Kristus, kita akan dimuliakan juga bersama Dia.
8:18 Semua penderitaan yang kita alami sekarang, menurut pendapat
saya, tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan kemuliaan yang akan
dinyatakan kepada kita.
8:19 Seluruh alam menunggu dengan sangat rindu akan saatnya Allah
menyatakan anak-anak-Nya.
8:20 Sebab alam sudah dibiarkan untuk menjadi rapuh, bukan karena
kemauannya sendiri, tetapi karena Allah membiarkannya demikian.
Meskipun begitu ada juga harapan ini:
8:21 bahwa pada suatu waktu alam akan dibebaskan dari kuasa yang
menghancurkannya dan akan turut dimerdekakan dan diagungkan bersama-
sama dengan anak-anak Allah.
8:22 Kita tahu bahwa sampai saat ini seluruh alam mengeluh karena
menderita seperti seorang ibu menderita pada waktu melahirkan bayi.
8:23 Dan bukannya seluruh alam saja yang mengeluh; kita sendiri pun
mengeluh di dalam batin kita. Kita sudah menerima Roh Allah sebagai
pemberian Allah yang pertama, namun kita masih juga menunggu Allah
membebaskan diri kita seluruhnya dan menjadikan kita anak-anak-Nya.
8:24 Karena dengan berharap, maka kita diselamatkan. Tetapi kalau apa
yang kita harapkan itu sudah kita lihat, maka itu bukan lagi harapan.
Sebab siapakah masih mengharapkan sesuatu yang sudah dilihatnya?
8:25 Tetapi kalau kita mengharapkan sesuatu yang belum kita lihat,
maka kita menunggunya dengan sabar.
8:26. Begitu juga Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah.
Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu
sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan
yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan.

ROMA 8:3-26 VERSI LEMBAGA ALKITAB INDONESIA
8:3 Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak
berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus
Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai
dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam
daging,
8:4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak
hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
8:5 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang
dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang
dari Roh.
8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah
hidup dan damai sejahtera.
8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena
ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin
baginya.
8:8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada
Allah.
8:9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika
memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki
Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
8:10. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati
karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.
8:11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara
orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan
Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu
yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan
kepada daging, supaya hidup menurut daging.
8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi
jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan
hidup.
8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu
menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan
kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah
anak-anak Allah.
8:17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris,
maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang
akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita
menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan
bersama-sama dengan Dia.
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-
anak Allah dinyatakan.
8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan,
bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah
menaklukkannya,
8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan
dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan
kemuliaan anak-anak Allah.
8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama
mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.
8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima
karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil
menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan
yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih
mengharapkan apa yang dilihatnya?
8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita
menantikannya dengan tekun.
8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita
tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri
berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak
terucapkan.


= = = =

LATAR BELAKANG DAN PERTOBATAN RASUL PAULUS

1. Penduduk Asli Tarsus
2. Pendidikan Paulus
3. Kembali ke Tarsus
4. Penganiayaan Orang-orang Kristen
5. Paulus Mulai Menuju ke Damsyik
6. Pertobatan Paulus
7. Ananias
8. Paulus Mulai Berkotbah


LATAR BELAKANG DAN PERTOBATAN RASUL PAULUS

BACAAN ALKITAB

* Kisah Para Rasul 21:39; 22:3; 22:27-28; 9:3-20

21:39 Paulus menjawab: "Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga
dari kota yang terkenal di Kilikia; aku minta, supaya aku
diperbolehkan berbicara kepada orang banyak itu."
22:3 "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia,
tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan
Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang
yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.
22:27 Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata:
"Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?" Jawab Paulus: "Benar."
22:28 Lalu kata kepala pasukan itu: "Kewarganegaraan itu kubeli dengan
harga yang mahal." Jawab Paulus: "Tetapi aku mempunyai hak itu karena
kelahiranku."
9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu,
tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.
9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang
berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"
9:5 Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus
yang kauaniaya itu.
9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan
dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka
memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.
9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak
dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.
9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia
tidak makan dan minum.
9:10 Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan
kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku,
Tuhan!"
9:11 Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus,
dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia
sekarang berdoa,
9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang
bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya,
supaya ia dapat melihat lagi."
9:13 Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang
orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap
orang-
orang kudus-Mu di Yerusalem.
9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala
untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."
9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah
alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa
lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.
9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan
yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."
9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia
menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku,
Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau
lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi
dan penuh dengan Roh Kudus."
9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya,
sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.
9:19a Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.
9:19b Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di
Damsyik.
9:20 Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan
mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

SIAPA PAULUS ITU?


Kita akan mulai mempelajari kehidupan Rasul Paulus dengan terlebih
dahulu melihat latar belakang hidupnya. Nama aslinya adalah Saulus
(nama yang diambil dari bahasa Ibrani), tetapi setelah bertobat
mengambil nama dalam bahasa Yunani, yaitu Paulus. Saulus adalah
seorang Yahudi dan ia sangat bangga dengan keyahudiannya itu. Ia
berasal dari suku Benyamin dan ia juga memiliki kewarganegaraan Roma.


1. PENDUDUK ASLI TARSUS


Waktu kelahiran Paulus kurang lebih sama dengan kelahiran Tuhan Yesus
Kristus. Ia dilahirkan di Tarsus, sebuah kota yang terkemuka zaman itu
di wilayah Kilikia. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut Tengah.
Oleh karena itu, Tarsus menjadi kota pusat perdagangan. Di samping
itu, Tarsus juga menjadi kota ilmu pengetahuan. Banyak orang pendatang
yang belajar di sekolah-sekolah terkenal di Tarsus, dan kemudian
tersebar ke seluruh bagian kekaisaran Roma. Di kota ini tinggal orang-
orang Yunani dan orang- orang Timur, juga bangsa-bangsa yang lain.

Di kota Tarsus Paulus mendapat kesempatan belajar tentang cara hidup
bangsa yang bukan Yahudi. Oleh karena itu, ketika waktunya tiba, dia
dapat memperkenalkan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa lain dengan
cara yang sangat baik.

Dalam sejarah Perjanjian Baru sesudah kebangkitan Yesus, perhatian
beralih dari Petrus dan para murid Yesus lainnya kepada seorang tokoh
penting lain dalam kehidupan jemaat mula-mula - yakni Paulus, sang
Farisi. Paulus bukan satu-satunya orang Farisi yang menjadi Kristen
(Kisah Para Rasul 15:5), tetapi ia memang yang paling terkenal.
Berbeda dengan banyak orang Kristen Yahudi lainnya, Paulus tidak lahir
di Palestina. Sama seperti banyak orang yang bertobat pada hari
Pentakosta, ia seorang Yahudi Helenis. Ia berasal dari kota Tarsus di
provinsi Silisia, dan dia juga seorang warga negara Roma (Kisah Para
Rasul 22:3,27).


a. Masa muda Paulus


Mungkin sekali ada dua masa yang berbeda dalam kehidupan Paulus
sewaktu muda: masa kanak-kanak yang dihabiskannya di Tarsus, dan masa
muda serta awal kedewasaan di Yerusalem. Kata "dibesarkan" dalam Kisah
Para Rasul 22:3 dapat berarti ketika masih bayi Paulus pindah dari
Tarsus ke Yerusalem. Tetapi kebanyakan ahli berpendapat hal itu hanya
mengacu pada pendidikannya. Paulus pulang ke Tarsus setelah
pertobatannya (Kisah Para Rasul 9:30), jadi kelihatannya kota ini yang
dianggapnya sebagai kampung halaman.


a1. Tarsus

Walaupun Paulus pertama-tama dan terutama adalah seorang Yahudi, ia
juga bangga terhadap Tarsus, yang merupakan kota pendidikan tinggi
serta juga pusat pemerintahan dan perdagangan. Tetapi ia tidak merasa
senang dengan kebudayaan di kota itu yang bersifat Yunani dan kafir.
Orangtua Paulus merupakan orang-orang Yahudi dan sekaligus menjadi
warga negara Roma. Walaupun mereka berusaha melindungi Paulus dari
pengaruh kafir sewaktu remaja, tetapi keadaan kota Tarsus membuat
setiap anak yang cerdas terpengaruh oleh bahasa dan ide-ide kebudayaan
Yunani yang kafir. Pengaruh itu tampak dalam tiga rujukan sastra
Yunani oleh Paulus, yakni kepada penyair-penyair Epimenides (Kisah
Para Rasul 17:28), Aratus (Titus 1:12) dan Menander (1Korintus
15:33).

Sewaktu masih sangat muda, orangtua Paulus memutuskan ia harus menjadi
seorang rabi (guru hukum Taurat). Sebagai seorang anak kecil di
Tarsus, ia belajar tentang tradisi-tradisi umat Yahudi melalui
pendidikan yang teratur di sinagoge setempat. Alkitabnya yang pertama
kemungkinan besar adalah Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke
dalam bahasa Yunani.

Sewaktu tinggal di Tarsus, Paulus juga belajar membuat tenda, sebab
setiap murid hukum Taurat dianjurkan mempelajari suatu ketrampilan di
samping menuntut ilmu. Hal ini sangat bermanfaat bagi Paulus pada
kemudian hari, sebab dengan demikian dia sanggup memperoleh nafkah
sendiri sewaktu melakukan pekerjaan misionernya.


a2. Yerusalem

Tidak lama kemudian, Paulus dikirim dari Tarsus ke pusat dunia Yahudi,
yakni Yerusalem. Di Yerusalem ia menjadi murid Rabi Gamaliel, yang
merupakan cucu dan pengganti Rabi Hillel yang kesohor (kira-kira tahun
60 sM-20 M). Hillel telah mengajarkan suatu bentuk agama Yahudi yang
lebih maju dan liberal, daripada saingannya, Syammai. Apa yang
dikatakan Yesus tentang perceraian mungkin telah dicetuskan oleh
pengikut-pengikut kedua rabi tersebut (Markus 10:1-12). Hillel
menyatakan seorang lelaki dapat menceraikan istrinya kalau istrinya
itu tidak menyenangkan dalam hal apa pun juga - misalnya jika ia
memasak makanan sampai hangus! Tetapi Syammai berpendapat perceraian
hanya dibenarkan bila telah terjadi dosa moral yang berat. Apa yang
Paulus sendiri tulis mengenai pokok tersebut menunjukkan bahwa ia
mengubah pendiriannya setelah menjadi Kristen.

Namun Paulus memperoleh sedikitnya satu manfaat besar dari
pendidikannya menurut tradisi Hillel. Syammai berpendapat bahwa orang-
orang bukan-Yahudi tidak mempunyai tempat di dalam rencana Allah.
Sedangkan saingannya bukan saja menyambut mereka, tetapi secara
positif telah pergi menginjili mereka. Mungkin Paulus pertama kali
mendengar dari Gamaliel bahwa ada tugas besar yang perlu dikerjakan di
antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi di kawasan kekaisaran Roma.

Paulus mencatat kemajuan yang baik dalam studinya di Yerusalem.
Menurut Paulus sendiri, ia seorang murid yang sangat berhasil (Galatia
1:14). Ia menjadi begitu penting, sehingga ketika orang-orang Kristen
diadili oleh karena iman mereka, ia diberi hak "memberi suara"
terhadap mereka, baik dalam jemaat sinagoge ataupun di dewan tertinggi
orang Yahudi, yakni Sanhedrin (Kisah Para Rasul 26:10).

Demikianlah keterangan yang kita ketahui mengenai latar belakang dan
pendidikan Paulus. Kita telah memberikan garis besar hidupnya sebelum
dia bertobat. Sekarang kita harus menggali dan melihat apa yang dapat
ditemukan tentang hidup masa mudanya, agar kita mengerti
kepribadiannya yang rumit serta mempunyai dasar yang jelas untuk
mengerti surat-suratnya.

Rupanya ada tiga pengaruh utama pada Paulus selama masa mudanya, yakni
agama Yahudi, filsafat Yunani dan agama-agama rahasia.


b. Paulus dan agama Yahudi


Paulus sendiri tidak pernah menyebut pengaruh-pengaruh Yunani atau
kafir, tetapi ia membuat banyak pernyataan tentang latar belakang
serta pendidikan Yahudinya. Ia bangga akan kenyataan ia seorang Farisi
yang baik. Kalau kita membaca surat-surat Paulus yang ditulisnya
sebagai seorang Kristen, menjadi jelas ia tetap mempertahankan
kepercayaan-kepercayaan terbaik yang diterima dari guru-gurunya. Salah
satu saingan utama dari kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kedua golongan
tersebut masing-masing mewakili sayap liberal dan konservatif dari
agama Yahudi. Pada setiap pokok pertikaian antara kedua golongan
tersebut, Paulus mengutip dan sering memperbaiki pendirian kaum
Farisi.

• Kaum Farisi percaya sejarah mempunyai maksud dan tujuan. Mereka
berpendapat Allah mengatur peristiwa-peristiwa menurut rencana-Nya
sendiri, yang mencapai titik puncaknya dengan kedatangan sang Mesias
yang akan memimpin umat-Nya. Ini sesuatu yang dapat diterima dengan
baik oleh Paulus sebagai seorang Kristen. Dalam Roma 9-11 ia
mengemukakan Allah mengatur jalannya sejarah dengan tujuan agar pada
akhirnya orang-orang Yahudi diikutsertakan dalam persekutuan Kristen.
Paulus berpikir sebagai seorang Farisi yang baik -- walaupun dia
melangkah lebih jauh, sebab ia tahu Mesias telah datang dalam pribadi
Yesus Kristus.

• Kaum Farisi percaya akan hidup setelah kematian. Paulus menekankan
hal tersebut demi keuntungannya sendiri ketika dia diadili di hadapan
Sanhedrin (Kisah Para Rasul 23:6-10) dan Herodes Agripa II (Kisah Para
Rasul 26:6-8). Tetapi sebagai seorang Kristen, Paulus melangkah lebih
jauh lagi. Ia yakin bahwa tidak seorang pun dapat menjamin adanya
kebangkitan lepas dari kenyataan bahwa Yesus Kristus telah bangkit
dari kematian.

• Kaum Farisi percaya akan malaikat-malaikat dan setan-setan. Kaum
Saduki tidak percaya akan hal-hal tersebut. Di sini juga Paulus
mempertahankan kepercayaannya sebagai seorang Farisi tetapi
mengubahnya dalam terang Kristus. Di salib, Kristus telah menaklukkan
kuasa-kuasa jahat. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen "lebih daripada
orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" (Roma
8:37). Tidak seorang malaikat pun dapat menyaingi Tuhan yang telah
bangkit, yang dilayani Paulus, dan yang di dalam-Nya "seluruh
kepenuhan Allah berkenan diam" (Kolose 1:19).

Bukan hanya dalam soal iman Paulus memperlihatkan pengaruh latar
belakang Yahudinya. Cara ia menulis, dengan memakai ayat-ayat
Perjanjian Lama untuk "membuktikan" pokok-pokok teologisnya, langsung
diambil dari pendidikannya selaku seorang Farisi. Pembaca surat Paulus
kepada jemaat di Galatia kadang-kadang merasa heran, atau bahkan geli,
bila melihat cara Paulus menafsirkan beberapa nats Perjanjian Lama.
Umpamanya, ia memakai metode tafsir yang biasa dipakai para rabi
Yahudi sewaktu ia menyatakan janji-janji kepada Abraham ditujukan
kepada satu orang, yakni Yesus Kristus, dengan alasan kata Yunani yang
diterjemahkan "keturunan" berbentuk tunggal (Galatia 3:16). Seperti
para rabi, Paulus kadang-kadang mengutip sepotong nats tanpa
memperhatikan konteksnya, dan menggabungkan teks-teks yang diambil
dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang sama sekali berbeda dan
tidak berkaitan.

Namun dalam satu pokok penting Paulus tidak mengikuti warisan
Yahudinya. Kaum Farisi merupakan orang-orang legalistik. Mereka
mewajibkan pemeliharaan secara rinci bukan hanya hukum Perjanjian Lama
yang tertulis, tetapi juga hukum-hukum tradisional dan kebiasaan-
kebiasaan yang tidak berdasarkan otoritas Alkitab. Lebih daripada itu,
mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak memelihara semuanya
itu, tidak pernah dapat memperoleh keselamatan penuh. Paulus telah
mengalami keputusasaan secara total ketika ia berusaha menjadi seorang
Farisi yang baik dan memelihara Taurat. Paulus tahu ia tidak pernah
dapat melakukannya. Sebab itu ia tidak pernah dapat benar-benar
mengenal Allah. Sewaktu lagi merasa optimis, ia pernah berkata,
"tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, aku tidak
bercacat" (Filipi 3:6). Tetapi di dalam hatinya ia mengetahui ada
kuasa yang lebih besar daripada kuasanya sendiri yang sedang bekerja
dan mencegahnya untuk memelihara seluruh hukum Taurat. Bahkan
keberhasilan yang dicapainya pun jauh dari memadai: "Sebab apa yang
aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang
aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Roma
7:15). Semakin Paulus berusaha melakukan yang baik, ia menemukan bahwa
semakin tidak mungkin dia melakukannya.

Hanya karena ia seorang Farisi yang begitu setia, ia dapat menghargai
apa yang telah dilakukan Allah bagi manusia di dalam Yesus Kristus.
Ajaran Farisi menjadi cermin di mana Paulus melihat kekurangan-
kekurangannya sendiri yang begitu jelas dinyatakan sehingga ia
nampaknya merupakan orang "yang paling berdosa" (1Timotius 1:15).
Tetapi di dalam Yesus Kristus ia melihat pencerminan dari apa yang
dapat dicapainya oleh anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma:
"Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat ... telah
dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam
daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia
telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging ... Jadi ... jika
oleh Roh kamu mematikan perbuatan- perbuatan tubuhmu, kamu akan
hidup ... Roh membantu kita dalam kelemahan kita" (Roma
8:3,12,13,26).


c. Paulus dan Para Filsuf


Di antara banyak aliran filsafat yang ada pada waktu itu, aliran Stoik
mungkin yang paling serasi bagi Paulus. Satu atau dua filsuf Stoik
besar berasal dari Tarsus, dan mungkin Paulus masih ingat sedikit
tentang pengajaran mereka dari masa mudanya.

Beberapa ahli berpendapat pengetahuan Paulus tentang filsafat Stoik
lebih dalam daripada itu. Pada tahun 1910 Rudolf Bultmann menunjukkan
bahwa cara Paulus mengemukakan pendapatnya kadang-kadang menyerupai
argumen-argumen Stoik. Kedua-duanya memakai pertanyaan retoris,
pernyataan singkat yang berdiri sendiri, seorang lawan khayalan yang
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan banyak ilustrasi yang diambil
dari dunia atletik, pembangunan serta kehidupan sehari-hari. Malahan
kita dapat menemukan frasa-frasa dalam pengajaran Paulus yang dapat
dianggap mendukung ajaran Stoik; umpamanya pernyataannya, "segala
sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari
segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16-17).
Dalam pidato Paulus di Atena, Lukas melaporkan bahwa Paulus benar-
benar mengutip Aratus, penyair Stoik yang terkenal (Kisah Para Rasul
17:28). Beberapa dari surat Paulus juga sering mencerminkan
peristilahan Stoik -- seperti waktu ia menggambarkan moralitas dengan
istilah "seharusnya" atau "sepatutnya" dan "tidak pantas". Tidak perlu
disangsikan lagi bahwa Paulus mengetahui dan bersimpati terhadap
banyak cita-cita Stoik. Tetapi ada beberapa perbedaan yang hakiki dan
penting antara kekristenan Paulus dan filsafat Stoik.

• Filsafat Stoik didasarkan atas spekulasi-spekulasi filsafat mengenai
sifat dunia dan manusia. "Ilah"-nya yang sebenarnya adalah akal
manusia yang abstrak. Agama Kristen sangat berbeda, sebab ia dengan
kokoh didasarkan pada fakta-fakta historis tentang kehidupan, kematian
dan kebangkitan Yesus Kristus (1Korintus 15:3-11).

• "Ilah" Stoik adalah abstraksi yang samar-samar, kadang-kadang
dihubungkan dengan seluruh alam semesta, kadang-kadang dengan akal,
dan kadang-kadang malah dengan unsur api: "Tidak kita tahu ilah apa
itu, tetapi ada ilah yang berdiam" (Seneca, Surat-surat 41.2, dikutip
dari Virgil). Sebaliknya Allah yang dikenal Paulus adalah Wujud
pribadi yang dinyatakan dalam Kristus: "Karena seluruh kepenuhan Allah
berkenan diam di dalam Dia" (Kolose 1:19).

• Para Stoik mau menemukan "keselamatan" dalam keswasembadaan. Mereka
berusaha memperoleh penguasaan atas diri sendiri agar dapat hidup
secara serasi dengan alam. "Tujuan hidup adalah untuk bertindak sesuai
dengan alam, yakni sekaligus baik dengan alam yang ada dalam diri kita
maupun dengan alam semesta .... Jadi kehidupan yang sesuai dengan alam
adalah keberadaan yang bijak dan bahagia, yang dinikmati hanya oleh
orang yang selalu berusaha memelihara keserasian antara setan di dalam
pribadi dengan kehendak Kuasa yang mengatur alam semesta" (Diogenes
Laertius vii.1.53). Bagi Paulus, keselamatan berbeda sekali dengan
gagasan tersebut. Ia menemukan bahwa keselamatan tidak bergantung pada
diri sendiri, melainkan dengan penyerahan diri kepada Yesus Kristus:
"Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan
lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam
aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup
oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan
diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:19-20).

• Filsafat Stoik tidak mempunyai masa depan; melainkan merupakan agama
keputusasaan. Kebanyakan orang dianggap tidak sanggup mencapai
kedewasaan moral. Masa depan mereka adalah untuk dibinasakan di mana
satu siklus sejarah dunia mengikuti siklus lainnya, hanya untuk
dilahirkan kembali atau di-reinkarnasi -- begitu rupa sehingga seluruh
siklus dapat diulangi. Agama Kristen bertentangan dengan hal ini, dan
menyatakan bahwa dunia yang kita kenal pasti akan berakhir dengan
campur tangan Kristus sendiri. Kemudian akan tercipta suatu tata dunia
yang sama sekali baru (1Korintus 15:20-28).

Pengaruh Stoik terhadap Paulus haruslah dianggap sangat kecil saja.
Setiap orang tak luput dari pemakaian kata-kata dan ungkapan-ungkapan
yang dikenal dari konteks lain. Tetapi kalau Paulus memakai bahasa
Stoik, maka ia memberikannya arti baru. Sebab berita Paulus tentang
keselamatan melalui Kristus jauh berbeda dengan berita Stoik tentang
keselamatan melalui penguasaan diri.


d. Paulus dan Agama-agama Rahasia


Sepintas lalu, ada beberapa kemiripan antara agama-agama rahasia dan
agama Kristen. Keduanya datang ke Roma dari Timur. Keduanya menawarkan
"keselamatan" kepada pengikut-pengikutnya. Keduanya memakai upacara
penerimaan pengikut baru (baptisan Kristen) dan santapan sakramen
(perjamuan kudus Kristen). Keduanya menyapa Allah penyelamatnya
sebagai "Tuhan". Jika pengikut agama rahasia menjadi Kristen, maka
terkadang kepercayaan-kepercayaan rahasia terbawa ke dalam jemaat.
Mungkin peristiwa seperti inilah yang menjadi sumber persoalan di
jemaat di Korintus, sehingga Paulus menulis surat-surat kepada
jemaatnya.

Oleh karena adanya persamaan antara agama Kristen dengan agama-agama
rahasia, beberapa ahli mengira Paulus mengubah ajaran Yesus yang
sederhana menjadi semacam agama rahasia. Namun tidak ada lagi ahli
yang mempunyai pandangan semacam itu dewasa ini, karena tidak ada
bukti sejarah yang mendukungnya secara nyata. Bukti yang ada malah
menunjukkan kebalikannya.


• Agama-agama rahasia selalu bersedia, bahkan rindu, bergabung dengan
agama-agama lain. Ini sesuatu yang selalu ditolak oleh orang-orang
Kristen, karena percaya hanya mereka saja yang memiliki seluruh
kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus.

• Banyak bukti yang dahulu menunjukkan bahwa Paulus seorang penganut
agama rahasia sekarang dianggap palsu. Umpamanya, gelar "Tuhan" yang
dipakai untuk Yesus, sekarang ternyata diambil bukan dari agama- agama
rahasia melainkan dari Perjanjian Lama. Pengakuan iman Kristen "semoga
Tuhan kita datang" (yang ditulis dalam bentuk Aram, Maranata;
1Korintus 16:23) menunjukkan bahwa jemaat mula-mula di Yerusalem --
satu-satunya jemaat yang berbahasa Aram -- rupanya telah memberikan
gelar itu kepada Yesus jauh sebelum munculnya Paulus

• Apa yang mengesankan bagi dunia kafir bukanlah kemiripan agama
Kristen dengan agama-agama lain, melainkan perbedaannya. Tuduhan yang
paling sering dilontarkan terhadap orang-orang Kristen adalah mereka
ateis, sebab tidak mau mengakui ilah-ilah lain.

Tentu Paulus mengenal agama-agama rahasia, dan kemiripannya dengan
agama Kristen. Mereka menceritakan tentang dewa-dewa yang turun dalam
bentuk manusia; tentang keselamatan sebagai "mati" terhadap hidup yang
lama; tentang seorang dewa yang memberikan hidup kekal; dan tentang
dewa penyelamat yang dipanggil "tuhan". Ada kemungkinan Paulus, yang
siap "menjadi segala-galanya bagi semua orang" (1Korintus 9:22),
kadang-kadang dengan sengaja memakai ragam bahasa mereka. Tetapi
kemungkinan besar ia memakainya secara tidak sadar. Sebab orang-orang
terpelajar dari zamannya memakai bahasa agama-agama rahasia dengan
mudah dan tanpa ikatan, sama seperti kita sering memakai bahasa
astrologi populer dewasa ini. Paulus tidak menunjukkan bahwa ia
memiliki pengetahuan secara rinci tentang agama-agama rahasia. Ia
tidak pernah menyebut upacara-upacara mereka secara jelas.

Latar belakang Paulus meliputi tiga dunia pemikiran: dunia Yahudi,
dunia Yunani, dan dunia agama rahasia. Masing-masing dunia ini dapat
memberikan sekadar keterangan tentang kepribadian dan pengajarannya.
Tetapi kita akan khilaf bila menganggap Paulus hanyalah produk alami
dari lingkungan kebudayaannya. Ia menganggap dirinya sendiri terutama
sebagai "seorang di dalam Kristus" (2Korintus 12:2) atau seorang
Kristen. Apa pun yang diperolehnya dari sumber sumber lain, ia
mengakui bahwa Tuhannya yang baru mempunyai kuasa yang melebihi mereka
semua, dan demi Kristus ia menganggap yang lainnya sebagai
"sampah" (Filipi 3:8).


(Sumber : John Drane, MEMAHAMI PERJANJIAN BARU, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 1996 )



2. PENDIDIKAN PAULUS


Menurut adat istiadat Yahudi yang taat, setiap anak laki-laki harus
diberi pendidikan yang baik dan latihan yang sangat hati-hati di
rumahnya. Dia menerima pendidikan dasar. Kemudian pada usia 13 sampai
15 tahun, ia dikirim ke Yerusalem untuk mendapatkan pendidikan yang
lebih tinggi di sekolah kerabian (sebuah sekolah pendidikan dalam
agama Yahudi).

Di sekolah ini Paulus memperoleh kesempatan untuk belajar di bawah
bimbingan Gamaliel, salah seorang guru terbesar pada jaman itu. Paulus
menjadi seorang murid yang istimewa dan rupanya Gamaliel memberikan
penghargaan tinggi kepadanya.



3. KEMBALI KE TARSUS


Ketika Paulus telah menyelesaikan pendidikannya di Yerusalem, ia
kembali ke kota aslinya, Tarsus. Sekarang dia sudah siap bekerja.
Orangtua serta guru-gurunya sangat bangga kepadanya. Ada kemungkinan
Paulus menghabiskan waktunya selama beberapa tahun di Tarsus sebagai
seorang rabi, guru agama Yahudi. Tidak ada catatan lain tentang dia
selama tahun-tahun itu sampai ia kemudian kembali ke Yerusalem, tepat
sebelum kematian Stefanus, seorang pengikut Yesus Kristus.

Paulus sudah mendengar tentang gerakan Kristen yang menentang iman
Yahudi. Paulus ingin pergi untuk membantu mempertahankan iman nenek
moyangnya. Selama pengadilan Stefanus, Paulus ada di sana dengan
teman-
teman sebangsanya. Meskipun ia tidak ikut melempari Stefanus dengan
batu, ia memiliki perasaan yang sama dengan orang-orang yang
menganiaya Stefanus dan setuju bahwa Stefanus harus dihukum mati.
Paulus menyaksikan kematian Stefanus. Walaupun ia tidak mengetahuinya
pada waktu itu, kejadian ini memainkan peranan yang penting dalam
keputusannya mengikut Tuhan Yesus Kristus di kemudian hari.



4. PENGANIAYAAN ORANG-ORANG KRISTEN


Paulus menjadi pemimpin di antara orang Yahudi. Para pemimpin yang
lebih tua mundur dan membiarkan kesempatan kepada Paulus menjadi
pimpinan pasukan untuk menghancurkan kekristenan. Paulus sendiri
menggambarkan tindakannya yang melawan kekristenan ini dengan berkata:
"Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan
banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari
imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati.
Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya
untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku
mengejar mereka, bahkan sampai ke kota- kota asing." (Kisah Para Rasul
26:10,11)

Paulus adalah seorang yang taat kepada agama Yahudi dan dia merasa
bahwa apa yang dia lakukan itu benar. Ini terjadi sebelum ia mengalami
kasih dan anugerah dari Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus.



5. PAULUS MULAI MENUJU KE DAMSYIK


Pertobatan Paulus merupakan salah satu peristiwa terbesar sejarah
kekristenan. Paulus telah bertanggung jawab atas begitu banyak
kematian dan ribuan orang-orang Kristen yang dipenjarakannya. Sekarang
ia ada dalam perjalanan menuju Damsyik, sebuah kota penting di Siria,
untuk mengusir orang-orang Kristen di sana.

Ada tiga peristiwa dari pengalaman pertobatan Paulus yang tercatat di
dalam Perjanjian Baru. Lukas menceritakannya menurut kenyataan sejarah
dan Paulus menceritakannya dengan kata-katanya sendiri sebanyak dua
kali (semua dapat ditemukan dalam Kitab Kisah Para Rasul).

Paulus telah membuat namanya ditakuti di antara semua orang Kristen di
Yerusalem. Dia telah berhasil memisahkan atau membungkam banyak orang
Kristen di kota suci itu. Kemudian, ia mendapat laporan tentang adanya
kelompok besar orang Kristen di kota Damsyik. Kota Damsyik, kira-kira
240 km jauhnya dari Yerusalem. Dia memutuskan untuk pergi ke sana
untuk melanjutkan penganiayaannya kepada orang- orang percaya ini. Dia
telah diberi kekuasaan penuh dan membawa surat izin untuk memasuki
kota dan menangkap semua orang Kristen di kota itu dan membawa mereka
kembali dalam keadaan terbelenggu ke Yerusalem. Paulus dan kawan-kawan
memulai perjalanan yang panjang menuju Damsyik. Perjalanan ini
membutuhkan waktu enam sampai tujuh hari dan selama perjalanan panjang
ini anak muda yang pandai dan penuh semangat ini mempunyai banyak
waktu untuk berpikir. Mungkin ia mulai meragukan tindakannya. Dia
tidak habis berpikir dan tidak mengerti bagaimana Stefanus bisa mati
dengan begitu tenangnya. Dia tidak dapat melupakan doa Stefanus ketika
Stefanus "menutup mata" dengan damai. Paulus merasa bahwa dia harus
melakukan hal yang ia pandang benar, tetapi dia terganggu oleh
pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Oleh karena itu, ia
pun pergi ke Damsyik.



6. PERTOBATAN PAULUS


Berita tentang kedatangan Paulus telah sampai ke Damsyik sebelum ia
tiba di sana. Pertobatan Paulus terjadi ketika ia mendekati kota itu.
Pada waktu tengah hari, tiba-tiba sebuah cahaya yang membutakan mata
bersinar mengelilingi Paulus dan teman-temannya. Ia rebah ke tanah dan
kedengaranlah suatu suara berkata kepadanya, "Saul, Saul mengapa
engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah engkau, Tuhan?" Kata-
Nya: "Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah
ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus
kauperbuat." (Kisah Para Rasul 9:4-6) Paulus berdiri dari tanah dan
mendapati dirinya buta. Beberapa anak buahnya menuntun dia dan
membawanya ke Damsyik. Selama tiga hari lamanya dia tidak dapat
melihat dan tidak makan ataupun minum. Pengalaman ini mengubah Paulus
sepenuhnya. Sekarang orang Farisi yang sombong ini berubah menjadi
seorang yang kesakitan, gemetar, meraba-raba dan bergantung pada
tangan orang lain yang menuntunnya sampai ia tiba di Damsyik. Ia pergi
ke rumah Yudas dan langsung masuk ke kamarnya. Di sana ia tinggal
selama tiga hari tanpa makanan dan minuman. Selama tiga hari itu
Paulus berdoa dan berpuasa. Seluruh hidupnya telah berubah setelah
pertemuannya dengan Kristus. Sekarang dia harus membangun kembali
kehidupannya di dalam Kristus.

Pertobatan Paulus diceritakan panjang lebar oleh Lukas dalam Kisah
Para Rasul 9:1-9, dan kemudian masih disebut dua kali lagi dalam suatu
pidato Paulus (lihat 22:6-16; 26:12-18).

Paulus sendiri juga menyebutnya tetapi dengan jauh lebih sederhana.
Dua teks yang secara cukup luas membicarakan pertobatannya sendiri,
yakni Galatia 1:11-24 dan Filipi 3:4-14.


a. Galatia 1:11-24


* Galatia 1:11-24
1:11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil
yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.
1:12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang
mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus
Kristus.
1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama
Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha
membinasakannya.
1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman
yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat
rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.
1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan
memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku
memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun
aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;
1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah
menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari
situ kembali lagi ke Damsyik.
1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk
mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya.
1:19 Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain,
kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini
benar, aku tidak berdusta.
1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia.
1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di
Yudea.
1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka,
sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.
1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Paulus menerima Injilnya dari Kristus sendiri, katanya, yakni dalam
pewahyuan pada perjalanan ke Damsyik (lihat juga 1Korintus 15:8). Dari
pewartaan para murid ia sudah tahu bahwa Yesus diimani sebagai
Kristus. Justru itulah sebabnya bahwa ia menganiaya orang Kristen,
yang dari sudut Yahudi mesti dilihat sebagai orang murtad. Tetapi pada
perjalanan ke Damsyik ia mulai sadar bahwa orang Kristen benar, Yesus
sungguh Almasih, Putra Allah. Bagi Paulus ini suatu pengalaman batin.
Tetapi pengalaman iman ini, yang bersumber pada wahyu Allah sendiri,
membuat Paulus menegaskan bahwa ia tidak menerima Injilnya dari
manusia. Berulang kali ia mengatakan hal itu.

Permasalahan Paulus dengan jemaat di Galatia menyangkut soal-soal
agama Yahudi. Maka Paulus menandaskan bahwa dia sendiri pernah seorang
Yahudi, sampai "menganiaya jemaat Allah". Dan bukan hanya Yahudi biasa
saja: "sangat rajin memelihara adat-istiadat nenek- moyang". Paulus
seorang Farisi, "lebih maju daripada banyak orang sebaya". Paulus
tidak memandang rendah agama Yahudi (lihat Roma 10:1-3). Tetapi
"Kristus adalah pembubaran hukum Taurat" (Roma 10:4). "Sebelum iman
datang, kita berada di bawah pengawasan hukum Taurat, dan dikurung
sampai iman dinyatakan. Maka hukum Taurat adalah penuntun bagi kita
sampai Kristus datang. Sekarang iman TELAH datang, karena itu kita
tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun" (Galatia 3:23-24).
Sebelum Kristus agama Yahudi memang baik ("hukum Taurat adalah rohani;
hukum Taurat itu baik", Roma 7:14,16). Tetapi sekarang lain: Kristus
telah datang, dan hukum Taurat tidak berlaku lagi.

Dan bagi Paulus perubahan ini datang pada perjalanan ke Damsyik:
"Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku" (lihat 1Korintus
9:1; 15:8). Paulus begitu terkesan bahwa ia merumuskan pengalamannya
dengan suatu kutipan dari nyanyian "Hamba Tuhan": "Tuhan telah
memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari
rahim ibuku" (Yesaya 49:1; Yeremia 1:5). Pengalaman pada perjalanan ke
Damsyik bagi Paulus betul-betul karya rahmat, tanpa jasa manusia.
Tetapi bukan rahmat untuk dinikmati saja, melainkan untuk dibagikan
dengan banyak orang lain. Seperti hamba Tuhan begitu juga Paulus
merasa diri dipanggil untuk menjadi "terang bagi bangsa-bangsa, supaya
keselamatan sampai ke ujung bumi" (Yesaya 49:6; lihat juga Kisah Para
Rasul 9:15). Sebagai reaksi atas rahmat yang mempesonakan ini Paulus
mengundurkan diri: "Aku berangkat ke tanah Arab." Ia tidak bicara lagi
dengan siapa-siapa tetapi mengundurkan diri ke tempat yang sepi untuk
mengolah dan mengunyah pengalaman yang hebat ini. Baru tiga tahun
kemudian ia pergi mengunjungi Petrus, kepala para Rasul. Sungguh
mengharukan pertemuan antara kedua tokoh Gereja Purba ini. Paulus,
ahli kitab dan Farisi, pemimpin kelompok Yahudi, yang mendapat surat
kepercayaan dari pimpinan di Yerusalem, sekarang menghadap nelayan
dari Tiberias untuk mendengarkan cerita mengenai Yesus. Di kemudian
hari ia akan berkata: "Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran
manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian" (2Korintus
5:16). Tetapi kunjungan ini hanya sebentar saja. Kemudian Paulus
meneruskan lagi tugasnya di daerah Damsyik. Di Yerusalem ia (hampir)
tidak dikenal. Paulus tidak akan menetap di pusat. la akan mengembara
di seluruh dunia untuk memberitakan kabar baik mengenai kerahiman
Tuhan.



b. Filipi 3:4-14


* Filipi 3:4-14
3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada
hal-
hal lahiriah, aku lebih lagi:
3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku
Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat
aku orang Farisi,
3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam
mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang
kuanggap rugi karena Kristus.
3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan
Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena
Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus,
3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena
mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan
kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan
kepercayaan.
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan
persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan
Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah
sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga
menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah
menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah
di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu
panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.


Dalam surat kepada umat di Filipi terdapat cerita lain dari Paulus
mengenai pertobatannya. Di situ ia tidak begitu menyorotinya dari
sudut rahmat Tuhan seperti dalam surat kepada umat di Galatia,
melainkan dari perubahan yang terjadi dalam hidupnya sendiri. Suatu
perubahan yang dahsyat, dan sungguh mempesonakan. Memang bukan perkara
kecil bagi Paulus untuk berubah dari penganiaya jemaat Kristen menjadi
Rasul Kristus.

Juga di sini Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berasal dari
kalangan Yahudi. Ia menggambarkan secara mendetail apa yang
dimaksudkan dengan "hidup secara Yahudi" (lihat Galatia 1:14; 5:3).
Juga penganiayaan jemaat tidak didiamkan olehnya. Paulus tidak
menyangkal asal-usul Yahudinya (lihat juga Roma 11:1; 2Korintus
11:22). Ia juga tidak menyangkal bahwa hukum Taurat pernah menjadi
andalannya. "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan, sekarang
kuanggap rugi." Dan bukan karena ia menyesal bahwa pernah berusaha
hidup baik sebagai orang Yahudi tetapi "karena Kristus", "karena
pengenalan akan Kristus". Sebab mengenal Kristus itu lebih unggul dari
apa-apa saja. Maka ia juga menyebut Kristus "Tuhanku". Dan inilah
keterangannya: "Siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:
yang lama sudah berlalu" (2Korintus 5:17; lihat Galatia 6:15). Orang
tidak dapat mengenal Kristus dan tetap berpegang pada yang lama.
Bertemu dengan Kristus berarti suatu perubahan radikal. Karena
kepercayaannya akan Kristus ia memperoleh "kebenaran yang Allah
anugerahkan berdasarkan kepercayaan". Artinya: tanpa Kristus kita
tidak dapat apa-apa (Roma 3:9: "semua ada di bawah kuasa dosa").
Tetapi Kristus "telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian dalam
darah-Nya" bagi orang yang percaya (Roma 3:25). Maka "kita hidup dalam
damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus
Kristus" (Roma 5:1).

Di sini Paulus sudah masuk ke dalam pokok teologinya: oleh kesatuan
dengan Kristus kita diterima dan dibenarkan oleh Allah. Kristus,
khususnya wafat dan kebangkitan Kristus, adalah pernyataan kerahiman
Allah bagi kita (lihat Roma 3:22). "Allah mendamaikan dunia dengan
diri-Nya oleh Kristus" (2Korintus 5:19). Maka Paulus ingin menjadi
satu dengan Kristus. Tidak hanya mengenal Kristus, tetapi "mengenal
kuasa kebangkitan-Nya"; ingin "menjadi serupa dengan Dia dalam
kematian-Nya", supaya juga ikut dengan Kristus dalam kehidupan-Nya.
Sebab Allah "yang telah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kami
juga bersama-sama dengan Yesus" (2Korintus 4:14; lihat 1Korintus
6:14). Sebab "jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara
orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan
Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu
yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Roma 8:11). Kita
ikut serta dengan Kristus. Dan hanya dalam kesatuan dengan Kristus itu
kita dapat sampai kepada Allah. Tidak ada jalan lain. Oleh karena itu
Paulus berani berseru: "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih
Kristus?" (Roma 8:35). Tidak ada. Sekarang ini "kewargaan kita sudah
di dalam surga, dan dari situ kita menantikan Tuhan kita Yesus Kristus
sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini
menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Filipi 3:21). Tentu saja,
semua itu masih diharapkan. "Sebab kita diselamatkan dalam
pengharapan" (Roma 8:24). Tetapi Paulus "mengejarnya", "berlari-lari,
mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya"; berusaha untuk
menangkapnya, "karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus".
Paulus tidak dapat tinggal diam lagi: sekali disentuh oleh rahmat
Kristus ia ditarik oleh daya kekuatan yang tak dapat ditahan lagi.
"Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di
dalam aku. Dan hidupku, yang kuhidupi sekarang ini, adalah hidup oleh
iman akan Anak Allah yang mengasihi aku, dan menyerahkan diri untuk
aku" (Galatia 2:20).



7. ANANIAS


Ananias adalah seorang murid di antara banyak orang Kristen di
Damsyik. Dia dikasihi dan dihormati oleh semua orang yang mengenalnya.
Ananias mendapatkan sebuah penglihatan dari Allah dan diperintahkan
pergi ke rumah Yudas untuk menemui Saulus dari Tarsus. Ananias merasa
sangat takut karena ia telah mendengar tentang semua kejahatan yang
telah dilakukan Saulus terhadap orang- orang Kristen. Ananias
barangkali sudah mengetahui bahwa dengan alasan ini jugalah Paulus
datang ke Damsyik. Tetapi, Tuhan meyakinkan Ananias bahwa ia harus
pergi, sehingga ia pun pergi mengunjungi Saulus. Kemudian Ananias
menumpangkan tangannya ke atas kepala orang Farisi muda ini, dan
berkata, "Saulus, saudaraku" dan memberitahukannya bahwa Yesuslah
orang yang telah menampakkan diri dalam penglihatannya. Kemudian
terbukalah mata Paulus dan ia menerima anugerah Roh Kudus. Setelah itu
dia dibaptis, kemungkinan juga oleh Ananias.



8. PAULUS MULAI BERKOTBAH


Kita tidak terlalu heran ketika mengetahui bahwa rasul baru ini
langsung memulai pekerjaan barunya. Dia mulai berkotbah tentang
Kristus dan menyatakan bahwa Kristus adalah anak Allah. Para rasul
Tuhan sangat heran dengan perubahan yang luar biasa pada diri Paulus.
Orang-orang Yahudi yang mendengar dia juga merasa tidak percaya bahwa
Sauluslah orang yang menyatakan hal itu. Paulus bertumbuh dalam
kekuatan dan kuasa selama dia memberitakan Firman Tuhan.

Paulus pergi ke Arab dan tinggal di sana selama tiga tahun. Inilah
waktu untuk belajar dan mendalami Firman Allah guna mempersiapkan
dirinya kepada satu pelayanan yang penting, yang sudah menunggu di
hadapannya.

Setelah tinggal di Arab, ia kembali ke Damsyik. Di sana banyak orang
mendengarkan pemberitaannya dengan penuh semangat. Tetapi, tidak lama
kemudian orang-orang Yahudi berusaha mencari dan membunuhnya. Oleh
sebab itu, para murid merencanakan untuk meloloskan dia. Pada suatu
malam Paulus disembunyikan dalam sebuah keranjang dan diturunkan di
luar tembok kota.

Sekarang Paulus mengerti apa yang telah ia perbuat terhadap orang-
orang Kristen. Mulai saat itu banyak orang Yahudi mencari dia dan
ingin menghancurkannya. Paulus adalah seorang rasul Allah yang begitu
pandai dalam memberitakan Injil, baik kepada orang Yahudi ataupun
kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Orang yang bukan Yahudi adalah
orang-orang yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Dia telah bertumbuh
di kota Tarsus, sebuah kota yang bukan Yahudi, dan tinggal serta
belajar di sana sebagai seorang Yahudi.


(Sumber : Tom Jacobs, RASUL PAULUS, Penerbit : Kanisius, Yogyakarta,
1984 Halaman : 9 – 13)


.