Sudah benarkah Suharto diangkat jadi Pahlawan?



kopi pipis dari e-mail tetangga
Seandainya Waktu Bisa Diputar Mundur
by Aji Prasetyo


Pengepungan istana oleh pasukan gelap (11 Maret 1966-berdasar
pengakuan sendiri yang disiarkan dipimpin oleh seorang perwira tinggi
Kostrad), Presiden Soekarno waktu itu sedang memimpin Sidang Kabinet,
mendapat laporan bahwa istana dikepung pasukan gelap, segera pimpinan
sidang dialihkan kepada Waperdam III Dr.Leimena dan Presiden Soekarno
kemudian segera meninggalkan istana dan terbang ke Bogor, diikuti oleh
Soebandrio. Sikap Bung Karno ini berbeda dengan tatkala menghadapi
peristiwa 17 Oktober 1952 waktu istana ditodong meriam yang beliau
langsung menghadapinya sendiri.
Dari Mana Bisa Kita Mulai Cerita Ini
Dalam penggal kedua tahun 50-an, di Jawa Tengah berpusat di Semarang,
terjadi kejahatan terorganisasi berupa penyelundupan besar-besaran,
penggelapan barang-barang milik perusahaan negara, manipulasi dump
kendaraan bermotor milik Divisi Diponegoro dan pungutan liar atas
barang-barang kebutuhan rakyat.
Para pelakunya terdiri dari oknum-oknum militer dan sipil yang
terorganisir dengan baik. Pelaksana utamanya adalah Liem Sioe Liong,
Thee Kian Seng (Bob Hasan), Tik Liong (Sutikno - pedagang besi tua).
Baru-baru ini bahkan Bob Hasan dengan bangga bercerita di depan
wartawan.tentang hal tersebut .Sedangkan tokoh kunci dari kejahatan
terorganisasi tersebut tidak lain adalah Kol.Soeharto, Pangdam
Diponegoro waktu itu.
Tim Pengusut MBAD, KPK Tempo Doeloe Yang Tak Kenal Ampun
Adanya kriminalitas terorganisasi tersebut akhirnya sampai ditelinga
Jendral Nasution Menteri Pertahanan / Ketua PARAN (Badan Pemberantasan
Korupsi dan Kejahatan Aparat Negara) atas laporan dari Kepala Staf
Divisi Diponegoro Kol.Pranoto Reksosamodra dan Letkol. Soenarjo,
komandan CPM Jawa Tengah yang mendeteksi dan mengamati kejahatan
tersebut. ( Letkol Soenarjo kemudian diangkat menjadi Jaksa Agung
Muda). Jendral Nasution memerintahkan agar kejahataan tersebut diusut,
yang dilakukan oleh Tim Pengusut MBAD, terdiri dari Majen Soeprapto
deputi
Pangad sebagai ketua, dengan anggauta Majen.S.Parman, Majen Harjono
MT, Brigjen Soetojo dan Brigjen Panjaitan.
Dengan teliti dan kerja keras, dengan didukung bukti-bukti yang sah
akhirnya Tim berkesimpulan bahwa para pelaku harus ditindak. Terutama
Kol. Soeharto yang menjadi biangnya harus dipecat dari jabatannya
selaku Panglima Divisi Diponegoro, dan mereka yang terlibat diajukan
ke depan Pengadilan.
Keputusan yang diambil adalah memecat Kol.Soeharto sebagai Panglima
Divisi Diponegoro, tetapi tidak diajukan kedepan pengadilan.Dia
kemudian dipindah ke Jakarta tanpa jabatan. Sedang Tik Liong diusut
oleh Kejaksaan Negeri Semarang atas perintah Jaksa Tinggi Jawa Tengah
Mr.Imam Bardjo (yang kemudian kedapatan meninggal secara misterius).
Mengenai pemecatan Suharto sebagai Pangdam, sebenarnya awalnya Letjen
Ahmad Yani berpendapat lain. Perwira senior-yang saking marah dan
malunya sempat menampar Kol. Suharto itu mengusulkan kepada Presiden
untuk memecat si Pangdam korup ini dari dinas militer. Namun karir
Suharto terselamatkan karena mendapat pembelaan dari Jendral Nasution.
Menurutnya, perwira ini masih bisa “dibina“. Bung Karno menyetujui
saran Nasution, dan akhirnya Kol. Suharto hanya di SESKOADkan.
Pembantaian Anggauta Tim Pengusut MBAD.
Dengan terjadinya drama berdarah subuh 1 Oktober 1965, ternyata
seluruh
anggauta Tim Pengusut MBAD yaitu jendral Soeprapto, S.Parman, Harjono
MT, Soetojo dan Panjaitan, dibantai habis, dengan tambahan Men Pangad
Letnan Jendral A.Yani.
Catatan: menurut ilmuwan Australia, Harold Crouch, pada tahun 1965
Mabes AD terbelah dalam dua kubu. Ditengah-tengah ada para perwira
tinggi yang loyal kepada Yani, yang enggan melawan kebijakan Presiden
tentang persatuan nasional dan bersekutu dengan PKI. Kubu kedua adalah
para perwira sayap kanan kelompok Nasution dan Suharto, terdiri dari
mereka yang menentang kebijakan Yani dan Sukarno dan anti PKI. Dari
pemilahan diatas, terungkap bahwa seluruh jendral pro Yani-Sukarno
habis terbunuh dalam malam 1 oktober. Sedangkan usaha penculikan
terhadap Nasution masih diselimuti tanda tanya besar. Logiskah seorang
pria muda, Letnan Tendean yang mengaku sebagai Nasution dengan mudah
mengecoh personel
cakrabhirawa, pasukan Istana yang nota bene tiap hari ketemu pejabat-
pejabat tinggi sipil maupun militer. Kecuali, si ajudan Nasution itu
memang jadi target utama yang harus dilenyapkan karena dianggap
“terlalu banyak tahu”.
Kemudian, mari kita mundur ke masa yang lain, tujuh tahun sebelum
terjadinya tragedi nasional itu.
Amerika bersama sekutunya pada tahun 1958 mensponsori sebuah proyek
pemberontakan, dengan tujuan menggulingkan Presiden Soekarno dan
memecah Indonesia untuk dijadikan beberapa negara dan menghapuskan
PKI. Mereka menarik pengalaman dari Cina, yang secara utuh sesudah
jatuhnya Chiang Kai Sek, seluruh daratan Cina jatuh ditangan komunis
kecuali Taiwan karena terhalang lautan dan kemudian disekat oleh
Armada keVII Amerika dengan dalih pakta dengan Cina (Chiang Kai Sek).
Di Indonesia Sekutu mempunyai kepentingan langsung yaitu sumber minyak
di Sumatra dan Kalimantan yang merupakan miliknya. Mereka mensponsori
proyek pemberontakan tersebut secara gegabah dan arogan, karena merasa
telah menjadi pemenang dalam Perang Dunia ke II. Sekutu menyalurkan
dana dan senjata lewat Singapura untuk PRRI dan Permesta. Amerika
(dengan berlagak tidak tahu menahu soal konflik intern RI) dengan
garang menodong Jakarta dengan Armada ke VII, minta jaminan
keselamatan warganya dan perusahaan-perusahaan miliknya. Jika Republik
Indonesia tidak sanggup maka mereka akan menggerakkan Armada keVII
yang sudah siap di laut Jawa.
Kolonel Ahmad Yani Sang Dewa Penolong
Dengan terjadinya pemberontakan PRRI-Permasta, proyek Amerika Inggris
tersebut, Bung Karno sebagai pemimpin kenamaan dunia, sempat jatuh
citra dan martabatnya sampai dititik terendah dimata dunia. Kemudian
tampil Kolonel A.Yani dengan Operasi 17 Agustus untuk menumpas
pemberontakan tersebut, dibawah ancaman Armada ke VII Amerika yang
menang perang melawan Jepang di Pasifik. Bintang terang berada di
pihak Yani. Dalam tiga hari berhasil direbut ibukota PRRI - Padang dan
dalam waktu sekitar satu minggu seluruh PRRI berhasil digulung.
Permesta juga mengalami nasib sama yang dalam waktu yang tidak terlalu
lama dapat diselesaikan
pula. Di Sulawesi malahan terjadi seorang penerbang berkebangsaan
Amerika, Allen Pope, ditembak jatuh oleh My.Ud. Dewanto, ditawan dan
diadili serta mendapatkan vonnis hukuman mati, karena dia telah
mengebomi wilayah Republik Indonesia dan juga beberapa kapal
Indonesia, sehingga menimbulkan kerusakan dan tewasnya rakyat yang
tidak berdosa. Dia mengaku bahwa operasinya dilakukan dengan terbang
dari Pangkalan Angkatan Udara Amerika di Clark Field, Fillipina
Dengan ditumpasnya pemberontakan projek Amerika - Inggris tersebut
dalam waktu yang mengejutkan singkatnya, muka mereka tercoreng dimata
dunia internasional dan terbuka kedoknya menyerang kedaulatan negara
lain semaunya sendiri. Disamping itu Amerika terpaksa harus menjadi
pengemis untuk memohon ampunan keselamatan jiwa Allen Pope, yang oleh
Bung Karno dengan jiwa besar diluluskan.
Jika penumpasan berjalan agak lama dan pemerintahan-pemerintahan
tandingan tersebut sempat membuat perjanjian dengan Amerika, maka
Amerika dapat menggerakkan Armada keVII untuk mendarat di wilayah
Indonesia. Dan entah apa yang terjadi setelah itu. Kol. Ahmad Yani,
sesudah selesai bertugas dalam Operasi 17 Agustus di Sumatra Barat,
kemudian diangkat menjadi Deputi Kasad dengan pangkat Mayor Jendral.
Pada pertengahan tahun 1963 dengan wafatnya Menteri Pertama
Ir.Djuanda, diadakan reshuffle Kabinet, Yani menjadi Menteri Panglima
Angkatan Darat.
Dalam kabinet baru ini Dr.Soebandrio diangkat menjadi Waperdam I,
Chaerul Waperdam II dan Pak Leimena Waperdam III. Disamping para
menteri eksekutif ini diangkat pula menteri-menteri yang mengkoordinir
bidang tertentu a.l. D.N.Aidit dari PKI ,juga diangkat menjadi Menko,
Jend.Nasution menjadi Menko bidang Pertahanan Keamanan dll. Meskipun
kabinet baru ini sudah mengakomodasi banyak unsur kekuatan termasuk
PKI, namun suhu politik bukannya mendingin,tetapi terasa
semakin panas, tuntutan pembagian keuangan untuk daerah masih tetap
meningkat dan desakan dari daerah termasuk dari unsur Angkatan
Bersenjata, agar dikembalikan kepemimpinan Dwi Tunggal menambah
kondisi politik tidak mantap. Lebih-lebih dengan intrik dan infiltrasi
dari kekuatan luar negeri yang semakin intensif .
Dalam kondisi yang tidak menentu tersebut rupa-rupanya Bung Karno
sudah sempat berpikiran buruk, dan menyampaikan amanah kepada Jendral
Yani,"kalau sampai terjadi apa-apa pada diri saya, engkau Yani supaya
menggantikan saya". Yani yang merasa belum siap menyarankan,"apakah
tidak sebaiknya diambil dari salah seorang Waperdam saja. Mas Ban, mas
Chaerul atau pak Leimena ". Jawaban Bung Karno ,"Bandrio is
onbetrouwbaar (tidak dapat dipercaya), Chaerul masih suka ngoboy, Pak
Leimena cocok kalau jadi dominee di gereja, yang tepat adalah engkau".
Namun seperti yang kita ketahui bersama, takdir bicara lain.

Malang, 15 November 2008

PS: Selamat kepada alm. Presiden Suharto atas kembalinya dukungan
rakyat
untuk menobatkan anda sebagai Pahlawan Nasional
.