Global Warming, Siapa Takut?
- From: wongsony <lokananta@xxxxxxxxx>
- Date: Mon, 10 Dec 2007 05:37:21 -0800 (PST)
Global Warming, Siapa Takut?
Anand Krishna
Radar Bali, Senin 10 Desember 2007
Asal ada fulus, semuanya beres..... Kepercayaan kita terhadap Fulusuddin
memang luar biasa, apa pun agama kita, apa pun latar belakang kita,
apa pun aspirasi politik kita - dalam fulus dan oleh fulus kita
dipersatukan.
Kepercayaan saya terhadap betapa pentingnya fulus bagi bangsa kita dan
bagi anak bangsa - kiranya semakin bertambah sejak menghadiri Dagelan
Kolosal yang sedang digelar di Bali dan difasilitasi oleh pemerintahan
yang sah, pilihan kita. Pun, diamini oleh para wakil rakyat yang sah
pula, sama-sama pilihan kita.
Sejak hari pertama tanggal 3 Desember, hingga malam hari kelima
tanggal 7 Desember - kita sibuk berbicara tentang urusan fulus. Media
pun mengangkat perkara fulus dan keuntungan ratusan milyar di sektor
pariwisata selama dagelan itu berlanjut. Fulusuddin, berjayalah dikau
yang kupertuanagungkan!
Negara-negara berkembang seperti kita membutuhkan fulus untuk tidak
menebang pohon, untuk melestarikan alam. So pasti jo.... Bisa bikin
apa tanpa uang? Negara-negara maju yang punya banyak uang harus
memenuhi kebutuhan kita - lho ngaak seberapa koq..... Kebutuhan kita
hanya 37.5 trilyun rupiah per tahun. Di negara-negara maju, uang
segitu tidak cukup untuk belanja shampo dan kosmetika setiap tahun.
Uang receh saja, masak ngaak rela? Tuhan Memberkati, terima kasih...
Kita telah menjadi pengemis.
Adalah sangat membanggakan bahwa kita tidak mengemis di lapangan
terbuka. Kita tidak minta-minta di depan pintu mereka. Kita mengundang
mereka untuk datang kesini untuk memberi sedekah. Ini kan luar
biasa.... Mereka juga menghargai posisi kita sebagai pengemis
bangsawan. Tepuk tangan, horreeee!
Dalam pidato pembukaannya, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Tuan Boer
mengharapkan Kebijaksanaan, Kasih dan Visi bagi semua peserta
konperensi. Kiranya, beliau tahu persis bila hanyalah dengan tiga hal
itu kita dapat menyelesaikan persoalan iklim.
Pun, Orangtua kita, the Great Grand Old Man, Bapak Emil Salim....
Kiranya beliau pun tahu persis bila adalah kerelaan negara-negara maju
untuk mengurangi emisi dan kesadaran negara-negara berkembang untuk
tidak mencontohi gaya hidup negara-negara maju yang dibutuhkan. Barat
dan Timur, Negara-negara maju dan berkembang dan miskin, Eropa dan
Amerika dan Asia dan Afrika dan Australia - semuanya mesti bekerja
sama untuk mengatasai persoalan yang sedang kita hadapi ini. Kita
sudah tidak bisa jalan masing-masing. Mesti melangkah bersama.
Sebab itu, pembicaraan tentang "jual-beli karbon" adalah sebuah
lelucon. Membiarkan seseorang mengencingi baju kita, kemudian menerima
bantuan dari orang itu untuk mencuci baju - dimanakah harga diri kita?
Kau boleh merokok, asal membayar sejumlah uang kepada setiap orang
yang tidak merokok dan berada dalam ruangan yang sama bersamamu -
supaya mereka dapat memeriksakan kesehatan mereka ke dokter. Aneh,
tidak masuk akal dan "maaf", mohon ampun jangan disomasi ya......
Ooopppps, memang tidak bisa disomasi. Karena, saya tidak mengatakan
Anda bodoh, saya mengatakan kita, bahkan saya bodoh, tolol, dungu....
Lho, saya pun menjadi bagian dari dagelan koq. Saya sedang memaki
diri, so please don't mind ya... plsssssss......
Profesor Emil Salim pernah mengingatkan saya akan pemikiran Gandhi,
Sang Mahatma atau Jiwa Besar, "Bila India meniru gaya hidup orang
barat, maka ia akan membutuhkan lebih banyak negara untuk dijajah
daripada Inggeris."
Gandhi juga pernah berkata bahwa sumber alam di dunia ini cukup untuk
memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi
keserakahan seorang pun.
Betul sekali....
Inilah persoalan yang sedang kita hadapi - Keserakahan, Kerakusan,
Greed. Dan, Keserakahan ini yang telah mengantar kita pada suatu
situasi yang membingungkan kita pula.
Anehnya, tak seorang pun memahami hal ini.
Mahatma Gandhi sudah mati, lagi pula dia kan orang asing, orang
Bombay..... Lucunya, anehnya, suara Profesor Emil Salim yang sama-sama
Melayu, dan suara Tuan Boer yang masih hidup, sehat dan segar-bugar,
dan saat ini berada di negeri kita - tak terdengar pula. Sungguh
menakjubkan.... Selain dungu, barangkali "saya" juga budeg, tuli.
Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara pernah berkata
bahwa kita tidak akan pernah merdeka bila tetap meniru gaya hidup
barat. Saya akan menambahkan, "untuk mempertahankan kemerdekaan" pun
tidak bisa. Ah, tapi siapa yang masih kenal dan ingat sama Dewantara?
Saat ini, kita sedang meniru abis gaya hidup barat. Demi kegemerlapan
yang tidak bermakna dan tidak bertahan untuk selamanya, kita telah
menjual negeri kita. Dan, kalau ada yang mengingatkan, kita malah
berang!
Kekuatan-kekuatan asing sedang bekerja keras untuk mempengaruhi cara
berpikir kita. Untuk merampas kesantunan kita. Untuk merubah kita
menjadi jiplakan barat. Di Kampung Negeri, seorang saudara kita belum
selesai bicara, sudah diteriaki oleh seorang pemuda, "Kami adalah
Yot...., blah, blah, blah," Ah, yang dimasuk adalah Youth....
Yot kita, ooopps "Youth" kita, khususnya yang didanai oleh para
funders dari luar, telah kehilangan ke-Indonesia-an mereka. Mereka
telah menjadi foto kopi asing. Dengan gaya Amerika yang tidak pas
banget pula, seorang pemuda menantang para pembicara di panel, "You
guys....." Maksudnya apa? Kalian? Tapi, "you guys" sungguh tak sopan.
Apalagi pihak yang ditantang itu pun bukanlah pihak yang
berseberangan. Pihak itu pun sama-sama mewakili NGO seperti dirinya.
Asal bicara, asal memperoleh perhatian, asal bisa meniru gaya orang
barat. Ah!
Inilah kualitas kita sehingga dapat dibiayai secara langsung maupun
tidak langsung oleh kekuatan-kekuatan asing yang memang memiliki
agenda untuk menguasai kita bersama seluruh sumber alam kita.
Para donatur tidak peduli bila orang-orang yang mereka gaji itu tidak
tahu-menahu tentang perubahan iklim. Baru keluar dari ruang sidang,
langsung merokok. Inilah sosok kita yang saat ini sedang bersidang.
Teman-teman kita di New York telah berhasil mendesak senat disana
untuk meng-goalkan bill tentang Climate Security. Alhamdulillah, Puji
Tuhan, Avighnam Astu, Rancangan Undang-Undang sudah diteruskan ke
Congress. Dan, teman-teman disana beradvokasi terus-menerus, berjuang
terus-menerus supaya rancangan itu dijadikan undang-undang. Sehingga,
Amerika Serikat mesti menurunkan emisi diatas 4.3% setiap tahun,
supaya pada tahun 2020 - emisi karbon yang dikeluarkan oleh Amerika
sudah ideal. Berarti pemotongan emisi sebesar hampir 50% dalam 12
tahun mendatang. Itu luar biasa!
Semestinya, negara-negara berkembang justru mendukung para senator
yang telah memperoleh keberhasilan awal itu untuk mendesak Congress AS
sehingga Undang-Undang yang dimaksud segera disahkan dan dunia ini
terselamatkan.
Begitu pula dengan negara-negara maju lainnya, seperti Australia dan
Jepang, dan Uni Eropa; pun negara-negara berkembang dengan tingkat
emisi yang sangat tinggi seperti Cina dan India - semestinya kita
mendukung rakyat mereka yang sedang mendesak pemerintahan mereka untuk
mengurangi emisi.
Eh, kita malah mencari keuntungan materi dari seluruh dagelan ini.
Para sahabatku yang sudah berjuang lama bersamaku, tetapi karena masih
bergaul dengan orang-orang yang percaya pada kekuatan fulus - juga
tidak memahami maksudku. Tanya kenapa? Karena mereka sendiri hidup dan
melanjutkan kuliahnya dengan aliran dana dari orang-orang yang sama.
Aliran dana itulah yang kemudian menjadi aliran darah di dalam tubuh
mereka.... Dan, walau sedekat apapun denganku, mereka tak dapat
memahamiku. Sayang, bersamaku, mereka juga tak dapat memahami Bung
Karno. Tak dapat pula memahami konspirasi besar yang sedang
direncanakan oleh para penguasa baru dunia kita.
Namun, ada harapan. Masih ada harapan.... Mari kita berharap pada
mereka yang tidak didanai oleh para funders yang diciptakan oleh para
konspirator yang ingin merampas seluruh kekayaan alam kita. Mari kita
bergaul dengan mereka. Mari kita berjuang bersama mereka. Mari kita
bersuara bersama.... dan membulatkan tekad kita untuk tidak gugur
dalam perjuangan ini, tetapi keluar sebagai pemenang.
Karena, kemenanganmu wahai satria, adalah kememangan bagi Ibu Pertiwi.
Berilah kesadaran kepada saudara-saudara kita yang saat ini tengah
mengkhianati air susu ibu. Recehan ribuan dollar yang kau terima
sebagai gaji atau scholarship itu jauh lebih rendah nilainya dari pada
air susu ibu yang telah memberi kehidupan kepadamu.
Dana itu, gaji itu, scholarship itu - semuanya akan tertinggal di
sini. Adalah hati nurani kita yang akan selalu bersama kita. Dan,
kelak hati itu pula yang akan meminta pertanggunganjawab dari setiap
di antara kita atas pengkhianatan yang kita lakukan terhadap Ibu
Pertiwi.
Tinggalkan Loe, Gue.....
Kembalilah pada Aku dan Kau, dan sadarilah bahwa sesungguhnya Aku dan
Kau pun Satu dan Sama adanya. Dalam Kasih Ibu Pertiwi, kita semua
saudara..... Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi!
-
.
- Follow-Ups:
- Re: Global Warming, Siapa Takut?
- From: Mene-Ke-Tehe
- Re: Global Warming, Siapa Takut?
- Prev by Date: Re: Baswe dah jalan
- Next by Date: Re: ............ Sebuah Cerita .................
- Previous by thread: misik ambung-ambungan
- Next by thread: Re: Global Warming, Siapa Takut?
- Index(es):