Mengenal Ajaran Tao : Huahu Ching -2



Huahujing - 2



*Men and women who wish to be aware of the whole truth should adopt
the
practices of the Integral Way. These time-honored disciplines calm the
mind
and bring one into harmony with all things. The first practice is the
practice of undiscriminating virtue: take care of those who are
deserving;
also, and equally, take care of those who are not. When you extend
your
virtue in all directions without discriminating, your feet are firmly
planted on the path that returns to the Tao.*

* *

*Pria dan wanita yang berharap untuk menyadari seluruh kebenaran harus
melaksanakan praktek Jalan Kemanunggalan. Laku praktek yang dihormati
sepanjang jaman ini akan menenangkan pikiran dan membawa kepada
keharmonisan
kepada semua hal. Praktek pertama adalah untuk melatih kebajikan yang
tidak
membeda-bedakan: merawat mereka yang membutuhkan; juga, dan secara
sama,
merawat mereka yang tidak. Ketika anda meluaskan kebajikan anda ke
seluruh
penjuru tanpa membeda-bedakan, kakimu akan tertanam secara kokoh ke
jalan
yang kembali pada Tao.*



Diskusi :

Seseorang yang berlatih mengkultivasi diri sudah selayaknya untuk
melatih
ketenangan dan kejernihan batin. Tanpa batin yang jernih dan
ketenangan,
maka tindakan kebajikannya hanya akan bersifat parsial.



Manusia pada umumnya mengatakan cinta kasih tanpa menyadari bahwa
kasihnya
itu masih dibatasi oleh suatu syarat-syarat tertentu. Kita mengatakan
cinta
kepada kekasih kita karena dia baik kepada kita, karena ia
menyenangkan hati
kita, karena ia cantik, karena ia begitu lucu dan selalu terkenang-
kenang
dalam ingatan kita. Manakala ia tidak lagi baik kepada kita, manakala
ia
tidak lagi menyenangkan hati kita, mana kala ia menjadi tua dan jelek,
manakala sikapnya menjadi menyebalkan; entah kemana cinta itu kabur
dan
menghilang?



Demikian pula kita seringkali menyerukan ajaran agama-agama dimana
mengajarkan cinta kasih. Saat orang yang lebih menderita dari kita
datang
dan meminta pertolongan, rasanya cukup mudah bagi hati kita untuk
tergerak
merasa kasihan. Apalagi bila orang tersebut seagama atau sepandangan
dari
kita. Apalagi bila orang tersebut adalah kawan kita atau ada hubungan
saudara dengan kita.

Tetapi, cinta kasih itu akan teruji bila mereka yang datang kepada
kita
ternyata adalah dari orang yang lebih sukses dari kita, mereka yang
berbeda
agama dengan kita, mereka yang berbeda pandangan dengan kita, apalagi
kala
kita sudah menganggap mereka 'musuh' atau pihak-pihak yang pernah
menyakiti
atau merugikan kita.



Itulah cintakasih yang parsial atau sepotong-sepotong, tidak utuh. Tao
mengajarkan kita untuk mengembangkan cintakasih yang utuh. Cintakasih
yang
utuh itu tidak semata kepada pihak-pihak yang kita setujui
(agreeable),
melainkan juga kepada pihak-pihak yang tidak kita setujui. Bisakah
kita
melaksanakan cintakasih-utuh tersebut bila kita tidak memiliki
ketenangan
dan kedamaian?
Hanya hati yang tenang, damai sejahteralah yang memiliki kekuatan
untuk
memberi tanpa syarat. Batin yang tenang dan jernih telah mengendapkan
segala
pikiran-pikiran kita, penilaian-penilaian, judgment, dan prasangka-
prasangka
kita. Pada saat pikiran tersebut berhenti, maka kita bisa melihat
hakikat
apa adanya : adanya suatu mahluk yang menderita yang membutuhkan
pertolongan.

Seringkali pikiran-pikiran kita memberi kategori-kategori mana yang
sangat
perlu ditolong, mana yang agak perlu, dan mana yang tidak perlu. Tapi
pikiran-pikiran tersebut semuanya berasal dari masa lampau, dari
keterkondisian kita di masa lalu. Apa yang terjadi sekarang dihadapan
kita
adalah masa kini, mengapa kita membawa-bawa masa lalu untuk memilah-
milah
dan mengukur cintakasih tersebut?



Cintakasih yang tanpa syarat itu tidak mengenal suku, golongan ,
agama ,
gender , dan segala macam jenis pembedaan yang lain. Pada saat ada
mahluk
yang perlu ditolong, cintakasih jenis itu akan memancar secara
spontan.



Barangkali anda akan berpikir bahwa cintakasih semacam itu adalah
cintakasih
yang bodoh. Tetapi apakah benar demikian?
Sesuatu yang muncul dari ketenangan dan kejernihan itu begitu dekat
dengan
Tao. Mereka yang dekat dengan Tao akan memiliki kebijaksanaan.

Justru pikiran-pikiran mengembaralah yang dianggap oleh orang awam
sebagai
'cerdik' atau 'pintar' itulah yang muncul berasal dari 3 racun, dimana
salah
satunya adalah 'kebodohan' atau 'kegelapan batin' (chi).



Kegelapan batin itu adalah karena kita tidak bisa melihat sesuatu
seperti
apa adanya. Pikiran-pikiran kita memberi ilusi untuk membedakan mana
yang
layak ditolong dan mana yang tidak layak, padahal semua itu sebenarnya
adalah sekedar pembenaran diri untuk memuaskan nafsu keserakahan (tan)
dan
kebencian kita (chen).



Seorang duniawi akan memberi kala ia merasa akan mendapatkan sesuatu
sebagai
imbal baliknya, entah itu berupa ketenaran atau keuntungan-keuntungan
di
masa depan. Lihatlah secara jelas kasus ini, dimana orang tersebut
ternyata
memberi karena didasarkan atas suatu keserakahan (tan) untuk
mendapatkan
sesuatu.



Seorang duniawi yang lainnya menolak memberi karena ia merasa bahwa
pihak
yang hendak ditolongnya pernah menyakiti hatinya di masa lalu.
Lihatlah
secara jelas kasus ini, dimana orang tersebut ternyata menolak
mengasihi
karena didasarkan atas kebencian (chi) atas suatu peristiwa di masa
lalu.



Lihatlah betapa pikiran2 yang mengembara ke masa lalu dan masa depan
membuat
cintakasih kita menjadi parsial. Padahal, masa lalu dan masa depan itu
adalah merupakan khayalan belaka, baying-bayang yang tidak eksis /
berada
pada masa kini.



Bila seseorang bisa senantiasa berpijak pada ke-sekarang-an (nowness),
maka
pikirannya berhenti mengembara. Karena pikirannya berhenti mengembara
makaia
menjadi tenang. Karena ia menjadi tenang, maka kotoran-kotoran
batinnya akan
mengendap. Karena kekotoran batinnya mengendap, maka ia akan menjadi
jernih.
Karena kejernihan itulah, maka ia bisa menjadi bagaikan mata air
jernih yang
menyumber untuk menghidupi semua mahluk.

Kala ia bisa berbuat demikian, maka mana ada lagi yang disebut kawan
atau
musuh? Dengan demikian maka ia menjadi harmonis / selaras dengan
segala
sesuatunya.



Bisa bersikap utuh tanpa membeda-bedakan itulah , maka disebut sebgai
Jalan
Kemanunggalan.



Salam,

Daniel

Sumber : milis Tao :
http://groups.yahoo.com/group/taoisme_indonesia/message/499

.



Relevant Pages

  • Sepuluh Butir Kebijakan Mahatma Gandhi (Bagian 4)
    ... Tuhan tidak memberiku ... kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi. ... Mereka yang ragu, bimbang, dan bingung adalah orang-orang yang tidak ... Hendaknya para calon pemimpin kita - calon bupati, gubernur, ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Kutipan2
    ... Ia tidak perlu meninggalkan ketinggian langit. ... dan dari langit. ... Amanah yang telah dijadikannya sebuah wacana ... Para pujangga yang berada di wilayah Peradaban Sindhu - dari Aaryan ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Tantra Yoga
    ... Mari kita belajar bersama, berkembang bersama, memperoleh pengetahuan ... semoga tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita. ... tanoti - sesuatu yang berekspansi, ... sudut hubungan Tilopa dan Naropa, ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Re: Kutipan2
    ... Manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk yang paling ... dan dari langit. ... Para pujangga yang berada di wilayah Peradaban Sindhu - dari Aaryan ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Sufi Mehfil Bende Mataram bersama Bapak Anand Krishna di Karaton Surakarta 1 April 2007
    ... Disiarkan langsung oleh RRI Surakarta dan diliput pula oleh Jogja TV ... saat itu setiap tanggal 1 September kita peringati sebagai Hari Bhakti ... Kini dalam rangka merayakan hari ulang tahun NIM yang kedua (11 April ... dunia ini, ada panas ada dingin, ada baik ada buruk, ada gelap ada ...
    (soc.culture.indonesia)