re : MMD MEMANG BERBEDA!



Dari: "Gunavijayo" <gunavijayo@xxxxxxxxx>

Pak Hudoyo dan rekan Andrew,

Membaca diskusi soal ini (termasuk namaskara) makin seru. Ijinkan saya=
membagikan pengalaman Vipassana saya dari bebarapa Bhikkhu dan Pak Hudoyo.=
Saya tak membela salah satu, ini pemahaman saya.

Sebelumnya, kita teliti dulu apa sih makna namaskara?

Salah satu maknanya adalah ungkapan rasa hormat dan terima kasih dimana=
berkat Sang Buddhalah kita sekarang bisa belajar Vipassana. Bila kita sudah=
bebas sempurna, mungkin kita sudah tak perlu berdiskusi soal perlu tidaknya=
bernamaskara. Tapi buat kita yg belum bebas, apakah kita tidak merasa perlu=
menghormati dan berterima kasih kepada Sang Buddha, penemu jalan vipassana?=
Dan apakah ungkapan rasa terima kasih dan penghormatan ini termasuk sebagai=
ritual? Dan apakah rasa terima kasih dan pemberian hormat itu harus dg=
namaskara?

Para Bhikkhu adalah anggota organisasi yg punya tata tertib, vinaya. Salah=
satunya soal bagaimana cara membabarkan Dhamma, bagaimana Dhamma, Ajaran=
Sang Buddha mesti diperlakukan. Namaskara kepada guru sebelum memberikan=
pengajaran Dhamma, adalah salah satu hal yg di atur dalam tata tertib=
kebhikkhuan. Jadi ritual namaskara adalah ritual yg sudah di atur dalam=
tata tertib organisasi kebhikkhuan. Dan tata tertib itu di buat Sang Buddha=
sendiri. Tidak mengikuti tata tertib, termasuk pelanggaran bagi Bhikkhu itu=
sendiri.=20

Juga kita mesti memaklumi, Bhikkhu selain melatih Vipassana, juga=
berkewajiban mengajarkan kemoralan, etika, melestarikan Buddha Dhamma.=
Sehingga dalam retret ceramahnya MENGANDUNG kotbah2 yg menurut pendapat=
saya, isinya di luar topic Vipassana (Hanya waktu dibawah bimbingan=
Chanmyay Sayadaw di BVA, saya merasa ceramahnya full soal Vipassana.).=
Sebab sehabis retret, bathin kita belum bebas sempurna, maka kita masih=
butuh mengikuti moralitas. Ketika retret Vipassana, kita sekalian dilatih=
untuk ikut melestarikan Buddha Dhamma. Satu paket lah. :)

Semoga info ini bisa dipahami dan dimaklumi oleh teman2 Non Buddhis.=20

Selanjutnya kita bicara Namaskara SAAT retret Vipassana atau MMD.

Perlu tidaknya namaskara, identik perlu atau tidaknya mandi saat retret.=
Tokh kita tetap lakukan =93ritual=94 mandi itu. Tidak kita sadari saja=
sampai keinginan mandi itu lenyap, kan?

Saat namaskara ke Buddharupang ataupun Bhikkhu pembimbing, yang jadi obyek=
perhatian kita adalah GERAKAN JASMANI. Angkat=85.. angkat=85=85 angkat=85..=
(ketika mengangkat tangan ke dahi), turun=85. Turun=85. Turun=85.( ketika=
menurunkan kepala ke lantai) sentuh=85.. sentuh=85.. sentuh=85.. (ketika=
tangan menyentuh lantai). dst.

Bhikkhu pembimbing cukup jelas menjelaskan apa yg mestinya kita lakukan saat=
bernamaskara. Perhatian pada gerakan jasmani dalam Namaskara identik dengan=
perhatian pada gerakan waktu kita menyedok air mandi. =20

Seperti membaca mantra Coca Cola atau Bud-dho, pikiran lebih mudah focus=
bila mantranya adalah kata yg kita anggap luhur, penting. Maka gerakan=
namaskara juga dianggap lebih luhur dibanding memperhatikan gerakan=
menyedok air mandi, sehingga bisa dilakukan dg lebih penuh perhatian.

Pernah saya coba, setelah bel terakhir untuk tidur malam. Semua teman di=
Dhammasala ber namaskara. Saya memperlambat gerakan namaskara. Selesai=
namaskara, saya bangun dan Dhammasala sudah sepi hanya ada seorang Dhamma=
Worker diam dan memperhatikan saya.. Muncul pikiran dalam hati,=94Jangan2=
Dhamma Worker ini berpikir, saya melakukan namaskara UNTUK memohon sesuatu=
kepada Sang Buddha?

Yah itu urusan dia, bukan urusan saya. Masa bodoh.=94 Saya ke kuti dg=
memperhatikan kaki kanan dan kiri.=20

Menurut saya, apakah namaskara itu termasuk ritual yg perlu atau tidak=
dilakukan, tergantung dari pengarahan pembimbing dan perhatian si pelaku=
sendiri, bukan dari gerakan Namaskara itu sendiri. Kata lainnya, ritual=
namaskara BISA dan sudah dijadikan objek Vipassana. Dengan demikian tak=
perlu diperdebatkan lagi perlu atau tidak perlu. Ini buat Umat Buddha.

Buat yg Non Buddhis, dengan mengikuti Vipassana, sudah berarti penghormatan=
tertinggi kepada sang Buddha. Bila kita merasa risi, dan merasa bukan=
tradisi kita, mungkin saat namaskara bisa menjadi sarana mengikis=
kemelekatan negative (baca: penolakan) atas tradisi lain. Kan, katanya,=
MELEKAT pada sesuatu sama buruknya dg MENOLAK sesuatu itu sendiri?

Belum lagi bila ada yg bertanya,=94Lalu bagaimana dg Sholat, yg masih=
diijinkan saat MMD?=94 :)

Kesimpulan saya pribadi soal Namaskara:

Namaskara bukan ritual sejenis meminta, memohon atau menyembah kepada Tuhan,=
seperti dalam agama lain, tapi tradisi penghormatan ala India saat itu. Dan=
SAAT retret, yg jadi perhatian adalah GERAKAN JASMANI, BUKAN (apa atau=
siapa) yang kita namaskara-i.. Kalau ego kita merasa risih, mungkin ada=
teman yg bisa mengirimkan =93Kisah bhikkhu Potala(maaf lupa tepatnya). Yg=
artinya Bhikkhu kitab suci kosong=94. Inti kisah itu, seorang murid mesti=
punya keyakinan dan rasa hormat kepada Guru pembimbingnya.

Kalau Guru mengajarkan agar kita namaskara, ikuti sebagai ungkapan rasa=
hormat dan terima kasih, sama sekali bukan sebagai penyembahan ke pada=
seorang dewa atau tuhan. Kalau Guru bilang tak perlu, ya sudah ikuti juga.=
Jangan namaskara dianggap menjadi problem. Anggap itu sebagai =93uang=
sekolah=94 yg mesti kita bayar untuk mendapatkan ilmu.

Pak Hudoyo:
[=85.]
Saya katakan, bahwa dalam retret MMD, 'berjalan sangat lambat' bukan NORMA=
yang harus dipertahankan dalam praktik. 'Berjalan lambat' hanyalah=
dilakukan dalam praktik 'meditasi jalan', dan tidak harus dilakukan dalam=
setiap keadaan berjalan, seperti berjalan ke ruang makan, berjalan ke=
toilet, ke kamar tidur dsb. 'Berjalan lambat' itu pun harus dipahami=
sebagai HASIL/DAMPAK dari konsentrasi yang kuat dalam 'meditasi jalan';=
bukan sebaliknya, bukan 'berjalan SENGAJA diperlambat' AGAR konsentrasi=
bisa kuat, seperti paparan Anda tentang meditasi jalan versi Mahasi. Itulah=
pemahaman tentang 'jalan lambat' dalam versi vipassana MMD, yang jelas=
berbeda dengan versi Myanmar.
--------------
GV:
Seingat saya Chanmyay Sayadaw menjelaskan, saat ke kuti, ke ruang makan,=
atau menuju ke satu tempat, cukup memakai hitungan KANAN KIRI dan berjalan=
dg kecepatan biasa, saja. Itu SUDAH CUKUP untuk mempertahankan=
KESINAMBUNGAN perhatian penuh.=20

Demikian arahan Vipassana dari para Bhikkhu yang saya dapat atau tangkap.=
Kalau ada yg menangkap lain, silahkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi=
lebih jelas sesuai adanya.

Mana yg lebih cepat, bagus atau baik antara kedua cara ini, saya tidak tahu.=
Tapi kalau kita memang mau mencari manfaatnya, tentu kita akan mendapatkan=
dari kedua cara tersebut. Saling melengkapi, mungkin tepatnya, selanjutnya=
baru kita memilih mana yg lebih cocok.

Salam metta,
Gunavijayo

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D=3D=3D=3D=3D
HUDOYO:

Bpk Gunavijayo yg baik,

Sebelum saya menanggapi substansi posting Anda, izinkan saya mengulangi=
pernyataan sikap yang sudah berulang-ulang saya nyatakan dalam diskusi ini:
"Tidak ada satu versi vipassana mana pun yang cocok untuk semua orang."
Apakah Bpk setuju dengan pandangan & sikap seperti itu? Kalau setuju,=
diskusi ini dapat diteruskan. Sikap seperti ini pada dasarnya sesuai dengan=
prinsip 'Pluralisme' dalam wacana keagamaan.=20
Tetapi, kalau ada satu pihak dalam diskusi ini berpendapat bahwa 'versi-KU=
seharusnya dipraktikkan oleh semua orang', maka hal itulah yang menjadi=
sumber kesalahpahaman dan kemungkinan ketersinggungan dalam diskusi ini.=
Sikap seperti itu tidak lebih daripada sikap 'Eksklusivisme' dalam wacana=
keagamaan.

***

Kembali kepada topik diskusi, tentang ritual (namaskara, minta delapan sila,=
baca paritta permohonan maaf dsb):
Perlu dipahami bahwa ritualisme apa saja, di agama mana saja, selalu=
mempunyai motif yang baik, yang positif. Bpk telah menjelaskan panjang=
lebar makna namaskara; Andrew telah menjelaskan panjang lebar tentang=
paritta permohonan maaf, dsb. Tidak ada ritual di agama mana pun yang tidak=
mempunyai motif baik. Semua uraian Anda dipahami dengan jelas. Saya paham=
sepenuhnya, landasan pemikiran itulah yang mendasari diadakannya=
ritual-ritual itu dalam retret vipassana tradisional. Semua itu adalah=
'perbuatan baik' (kusala karma). Teman-teman yang merasa perlu melakukan=
ritual seperti itu--bahkan yang menganggap ritual-ritual itu sebagai=
kebutuhan seperti orang butuh mandi--sangat saya anjurkan untuk mengikuti=
vipasssana tradisional, tetapi tidak mengikuti retret MMD.

Nah, sekarang saya merasa perlu menjelaskan kepada forum, landasan pemikiran=
apakah yang mendasari tidak dilakukannya ritual apa pun dalam vipassana=
versi MMD maupun vipassana versi Goenka:

Menurut pemahaman MMD, vipassana bertujuan langsung dan radikal untuk=
memahami gerak-gerik si aku (atta). Si aku (atta) ini terus-menerus ingin=
melakukan perbuatan-perbuatan baik (dan buruk), semuanya demi untuk=
kepentingannya sendiri. Di dalam retret MMD, pemeditasi tidak menurutkan=
keinginan-keinginan untuk melakukan perbuatan baik (apalagi buruk), karena=
selama keinginan seperti itu ada maka aku/atta ini tidak akan pernah padam.=
Dalam retret MMD, peserta tidak berupaya untuk rendah hati, tidak berupaya=
untuk berterima kasih, tidak berupaya untuk menjalankan delapan sila, tidak=
berupaya untuk mohon maaf, tidak berupaya untuk memancarkan kasih sayang,=
dsb dsb. Dalam retret MMD, semua keinginan dari si aku/atta, yang bertujuan=
baik (kusala) ini, sekadar disadari saja pada saat timbulnya sehingga tidak=
tercetus menjadi perbuatan atau menjadi ritual. Kalau ini dilakukan=
terus-menerus, hasilnya adalah padamnya si aku/atta ini, sekalipun hanya=
padam untuk satu detik, dua detik atau sepuluh detik, dst. Padamnya=
aku/atta untuk sementara inilah yang dikatakan oleh YM Buddhadasa Mahathera=
"mencicipi nibbana". Padamnya aku untuk sementara ini dialami dengan=
relatif cepat oleh pemeditasi MMD yang terus-menerus mengamati gerak-gerik=
si aku/atta yang ingin berbuat baik. Padamnya aku/atta untuk sementara ini=
sukar dialami oleh pemeditasi yang masih dipenuhi dengan keinginan=
siaku/atta untuk berbuat baik, yang masih sibuk dengan upaya si aku/atta=
untuk ber-vipassana sesuai petunjuk/aturan, mengatur langkah selambat=
mungkin, menggerakkan anggota tubuh selambat mungkin (misalnya dalam=
ber-namaskara) dsb. Padamnya aku/atta inilah yang tercermin dalam posting=
Siska Marsudhy baru-baru ini & saya kutip kembali di bawah ini.

Mungkin ada yang bertanya: Jadi kalau begitu pemeditasi MMD itu tidak rendah=
hati, tidak berterima kasih (karena tidak bernamaskara), tidak mengenal=
sila (karena tidak minta delapan sila setiap hari), tidak mengenal cinta=
kasih (karena tidak melakukan metta-bhavana selama 10 menit setiap meditasi=
duduk), tidak pernah minta maaf atas kesalahannya (karena tidak membaca=
paritta permohonan maaf)? ... Ah, itu kan cuma permainan pikiran yang=
terjebak dalam dualisme: kalau tidak begini, pasti begitu (lawannya) ...=20

Sekali lagi, berterima kasih, rendah hati, memegang sila, memancarkan metta=
dan minta maaf, dsb itu adalah cetana (gerak pikiran) yang bersifat baik=
(kusala), yang akan membawa pada kelahiran di alam dewa. Menurut pemahaman=
MMD, semua cetana (gerak pikiran) yang berasal dari si aku/atta itu harus=
disadari ketika muncul, sehingga tidak ada kelanjutannya & lenyap kembali,=
termasuk gerak pikiran yang baik. Menurut pemahaman MMD, dalam vipassana=
menyadari si aku/atta itulah yang utama, bukannya menuruti segala keinginan=
untuk berbuat baik (kusala) atau tidak baik (akusala).

Pemahaman MMD dan vipassana versi Goenka ini didasarkan pada ajaran Sang=
Buddha sendiri bahwa 'kelekatan pada ritualisme' (yang semuanya bertujuan=
baik), 'silabattaparamasa', justru adalah salah satu belenggu yang harus=
patah pertama kali sebelum orang mencapai tingkat kesucian pertama. Dalam=
MMD dan vipassana versi Goenka, pematahan kelekatan pada ritualisme ini=
harus dimulai pada saat sekarang di dalam retret, secara intelektual dan=
tercermin dalam sikap mental.=20

(Namun itu tidak berarti bahwa retret MMD bersikap a priori dalam hal ini.=
Dalam retret yang lalu di BVA--dan dalam retret-retret MMD yang=
lain--setelah saya jelaskan landasan pemikiran MMD terhadap ritualisme=
seperti di atas, saya lihat ada beberapa peserta yang tetap ber-namaskara=
ketika masuk dan keluar Dharmasala. Mereka ini saya biarkan saja. Kalau=
dilarang, pelarangan itu malah tidak benar, karena menjadi a priori dan=
eksklusif, dan menimbulkan konflik dalam batin orang yang pemahamannya=
memang berbeda.)

***

Belum lagi bila ada yg bertanya,=94Lalu bagaimana dg Sholat, yg masih=
diijinkan saat MMD?=94 :)
-----
Pertanyaan ini sangat bagus, karena menyangkut teman-teman Muslim yang=
mengikuti retret vipassana. SHOLAT adalah suatu KEWAJIBAN bagi kaum Muslim.=
Berbeda dengan namaskara yang BUKAN KEWAJIBAN. (Saya tidak MELARANG orang=
melakukan ritual dalam retret MMD; saya hanya memberikan penjelasan=
mengenai dasar pemahaman dan sikap batin yang semestinya dalam retret MMD.)=
=20

Kewajiban sholat bagi seorang Muslim tidak terlepas dari suatu paradigma=
keagamaan yang khas Islam, yakni sebagai PERINTAH DARI ALLAH. Setiap agama=
punya paradigmanya sendiri. (Paradigma Kristen, misalnya, ialah bahwa Yesus=
adalah Allah Putra yang turun ke dunia menebus dosa manusia; paradigma=
Agama Buddha ialah bahwa Sang Buddha Gotama adalah satu-satunya guru yang=
membabarkan jalan pembebasan di zaman ini.) RETRET MMD TIDAK DIMAKSUDKAN=
UNTUK MEMBONGKAR PARADIGMA-PARADIGMA KEAGAMAAN SEPERTI ITU. Dengan kata=
lain, retret MMD tidaklah bermaksud membongkar IMAN para penganut=
agama-agama yang mengikuti retret MMD.=20

Pemahaman paradigmatik peserta MMD berkaitan dengan imannya masing-masing=
tidaklah dikutik-kutik dalam retret MMD. Pemahaman itu akan berkembang=
selaras dengan hidayah yang diterima oleh setiap orang dalam hubungannya=
dengan yang diimannya itu. Perkembangan paradigmatik itu tampak misalnya=
pada pengalaman batin Bernadette Roberts, ketika mengalami runtuhnya=
dirinya bersama LENYAPNYA TUHAN, dua puluh tahun setelah ia mengalami=
"penyatuan dengan Tuhan" menurut paradigma mistikal Kristen. Namun sekali=
lagi, itu bukan urusan retret MMD. Retret MMD hanya menjelaskan posisinya=
berkaitan dengan ritualisme pada awal ketika retret dimulai. Selebihnya=
terserah para praktisi itu sendiri, mau diikuti atau tidak.

Saya sudah cukup mendalam berbicara mengenai masalah ini dengan sahabat=
saya, H. Sutarman, seorang haji pemeditasi MMD yang sudah beberapa kali=
mengikuti retret MMD Seminggu. Saya sendiri tidak kompeten menyoroti=
masalah ini dari sudut pandang Islam. Oleh karena itu, saya undang Mas=
Sutarman untuk ikut mengemukakan pandangannya sebagai seorang Muslim, bila=
Anda membaca posting ini.

KESIMPULAN SAYA: Tetap seperti semula: Tidak ada satu versi vipassana mana=
pun yang cocok untuk SEMUA orang.

Sekian dulu,=20
Salam,
Hudoyo

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
ANDREW:
(snip)
Selain ekperimen diatas saya juga mengajak sidang pembaca untuk=
bereksperimen dengan 'upaya'
ketika anda mengamati atau menyadari proses pada saat, misalkan meditasi=
duduk melihat naik dan
turunnya perut, apakah anda MENGARAHKAN batin anda untuk mengamati atau=
tiba-tiba pikiran anda
bisa sadar ke sensasi perut yang naik turun?=20
(snip)
=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
SISKA MARSUDHY:

Saya agak curious karena untuk saya, kasus yang kedua ('tiba-tiba pikiran=
bisa sadar ke sensasi perut yang naik turun') kadang-kadang terjadi pada=
saya. Malah kadang, terjadi di saat saya sedang sibuk bekerja di kantor.=
Kalau dipikir, batin yang terarah secara tiba-tiba ini biasanya malah lebih=
'fokus'(?) dan tenang daripada kalau sedang meditasi formal dan 'sengaja'=
mengarahkan batin.=20

=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
HUDOYO:

Anda sudah terlatih berada dalam kesadaran vipassana/MMD selama seminggu=
penuh, dalam beberapa kali retret MMD. Tidak mengherankan bahwa Anda bisa=
mengalami "sadar tanpa upaya" ini, bahkan dalam kesadaran sehari-hari=
ketika tidak sedang dalam retret.=20

Ini yang sukar dialami oleh pemeditasi vipassana yang menggunakan pendekatan=
lain, pendekatan si 'aku' yang terus berupaya untuk "ber-vipassana".

Tidak ada satu versi vipassana yang cocok untuk semua orang.=20




.



Relevant Pages

  • =?ISO-8859-1?Q?Re=3A_satu_ayat_dipak=E9=2C_ayat=2Dayat_la=E8n=2D=E9_diguak_ba?= =?ISO-88
    ... Saya mengaku percaya akan kebenaran Alkitab dan ... Yesus Kristus Anak Allah, Tuhan dan Juruselamat ... Juga tidak disebabkan penerangan para pendeta ...
    (soc.culture.indonesia)
  • THE EXPERIENCE OF NO-SELF(09): Bab 5 (2/2) - Pencarian ini suatu tipuan psikologis besar
    ... Beberapa tahun sebelumnya saya menemukan dalam sebuah buku uraian yang menggambarkan keadaan tak-tahu, yang oleh penulis dirumuskan sebagai "suatu disosiasi psikologis sempurna tanpa kompensasi" atau kira-kira demikian bunyinya. ... Pada waktu itu saya tidak bisa membayangkan apa yang dibicarakannya, tetapi merasa bahwa itu sesuatu yang amat tidak enak dan saya senang bahwa saya tidak pernah mengalami kondisi yang menakutkan seperti itu. ...
    (soc.culture.indonesia)
  • re : MMD MEMANG BERBEDA!
    ... Saya pernah ikut vipassana tradisional dan ikut MMD, ... memberikan informasi soal Vipassana Tradisional SESUAI dg apa yang= ... Saya tidak masuk ke topic, versi mana yg lebih baik, lebih cepat, lebih= ...
    (soc.culture.indonesia)
  • KEBOHONGAN TERBESAR tentang quran
    ... Sudah berulang kali kita mendengarkan kata-kata TIDAK ADA PAKSAAN ... DALAM AGAMA. ... Siapapun yg menyuarakan prinsip ini ternyata ... kita harus melihat kapan dan ...
    (soc.culture.indonesia)
  • Kemenjadian seorang Ksatria Cahaya
    ... Pipin yg sedang berjalan di jalan sunyi dan penuh kelokan, ... Ini menyambung cerita mengenai pembacaan saya atas buku Paulo Coelho yg= ... tidak dapat dilakukan dlm sekali dua kali baca, ...
    (soc.culture.indonesia)