re : MMD MEMANG BERBEDA!
- From: Gunavijayo by way of <Use-Author-Supplied-Address-Header@[127.1]>
- Date: Wed, 25 Apr 2007 10:41:02 +0700
Dari: "Gunavijayo" <gunavijayo@xxxxxxxxx>
Pak Hudoyo dan rekan Andrew,
Membaca diskusi soal ini (termasuk namaskara) makin seru. Ijinkan saya=
membagikan pengalaman Vipassana saya dari bebarapa Bhikkhu dan Pak Hudoyo.=
Saya tak membela salah satu, ini pemahaman saya.
Sebelumnya, kita teliti dulu apa sih makna namaskara?
Salah satu maknanya adalah ungkapan rasa hormat dan terima kasih dimana=
berkat Sang Buddhalah kita sekarang bisa belajar Vipassana. Bila kita sudah=
bebas sempurna, mungkin kita sudah tak perlu berdiskusi soal perlu tidaknya=
bernamaskara. Tapi buat kita yg belum bebas, apakah kita tidak merasa perlu=
menghormati dan berterima kasih kepada Sang Buddha, penemu jalan vipassana?=
Dan apakah ungkapan rasa terima kasih dan penghormatan ini termasuk sebagai=
ritual? Dan apakah rasa terima kasih dan pemberian hormat itu harus dg=
namaskara?
Para Bhikkhu adalah anggota organisasi yg punya tata tertib, vinaya. Salah=
satunya soal bagaimana cara membabarkan Dhamma, bagaimana Dhamma, Ajaran=
Sang Buddha mesti diperlakukan. Namaskara kepada guru sebelum memberikan=
pengajaran Dhamma, adalah salah satu hal yg di atur dalam tata tertib=
kebhikkhuan. Jadi ritual namaskara adalah ritual yg sudah di atur dalam=
tata tertib organisasi kebhikkhuan. Dan tata tertib itu di buat Sang Buddha=
sendiri. Tidak mengikuti tata tertib, termasuk pelanggaran bagi Bhikkhu itu=
sendiri.=20
Juga kita mesti memaklumi, Bhikkhu selain melatih Vipassana, juga=
berkewajiban mengajarkan kemoralan, etika, melestarikan Buddha Dhamma.=
Sehingga dalam retret ceramahnya MENGANDUNG kotbah2 yg menurut pendapat=
saya, isinya di luar topic Vipassana (Hanya waktu dibawah bimbingan=
Chanmyay Sayadaw di BVA, saya merasa ceramahnya full soal Vipassana.).=
Sebab sehabis retret, bathin kita belum bebas sempurna, maka kita masih=
butuh mengikuti moralitas. Ketika retret Vipassana, kita sekalian dilatih=
untuk ikut melestarikan Buddha Dhamma. Satu paket lah. :)
Semoga info ini bisa dipahami dan dimaklumi oleh teman2 Non Buddhis.=20
Selanjutnya kita bicara Namaskara SAAT retret Vipassana atau MMD.
Perlu tidaknya namaskara, identik perlu atau tidaknya mandi saat retret.=
Tokh kita tetap lakukan =93ritual=94 mandi itu. Tidak kita sadari saja=
sampai keinginan mandi itu lenyap, kan?
Saat namaskara ke Buddharupang ataupun Bhikkhu pembimbing, yang jadi obyek=
perhatian kita adalah GERAKAN JASMANI. Angkat=85.. angkat=85=85 angkat=85..=
(ketika mengangkat tangan ke dahi), turun=85. Turun=85. Turun=85.( ketika=
menurunkan kepala ke lantai) sentuh=85.. sentuh=85.. sentuh=85.. (ketika=
tangan menyentuh lantai). dst.
Bhikkhu pembimbing cukup jelas menjelaskan apa yg mestinya kita lakukan saat=
bernamaskara. Perhatian pada gerakan jasmani dalam Namaskara identik dengan=
perhatian pada gerakan waktu kita menyedok air mandi. =20
Seperti membaca mantra Coca Cola atau Bud-dho, pikiran lebih mudah focus=
bila mantranya adalah kata yg kita anggap luhur, penting. Maka gerakan=
namaskara juga dianggap lebih luhur dibanding memperhatikan gerakan=
menyedok air mandi, sehingga bisa dilakukan dg lebih penuh perhatian.
Pernah saya coba, setelah bel terakhir untuk tidur malam. Semua teman di=
Dhammasala ber namaskara. Saya memperlambat gerakan namaskara. Selesai=
namaskara, saya bangun dan Dhammasala sudah sepi hanya ada seorang Dhamma=
Worker diam dan memperhatikan saya.. Muncul pikiran dalam hati,=94Jangan2=
Dhamma Worker ini berpikir, saya melakukan namaskara UNTUK memohon sesuatu=
kepada Sang Buddha?
Yah itu urusan dia, bukan urusan saya. Masa bodoh.=94 Saya ke kuti dg=
memperhatikan kaki kanan dan kiri.=20
Menurut saya, apakah namaskara itu termasuk ritual yg perlu atau tidak=
dilakukan, tergantung dari pengarahan pembimbing dan perhatian si pelaku=
sendiri, bukan dari gerakan Namaskara itu sendiri. Kata lainnya, ritual=
namaskara BISA dan sudah dijadikan objek Vipassana. Dengan demikian tak=
perlu diperdebatkan lagi perlu atau tidak perlu. Ini buat Umat Buddha.
Buat yg Non Buddhis, dengan mengikuti Vipassana, sudah berarti penghormatan=
tertinggi kepada sang Buddha. Bila kita merasa risi, dan merasa bukan=
tradisi kita, mungkin saat namaskara bisa menjadi sarana mengikis=
kemelekatan negative (baca: penolakan) atas tradisi lain. Kan, katanya,=
MELEKAT pada sesuatu sama buruknya dg MENOLAK sesuatu itu sendiri?
Belum lagi bila ada yg bertanya,=94Lalu bagaimana dg Sholat, yg masih=
diijinkan saat MMD?=94 :)
Kesimpulan saya pribadi soal Namaskara:
Namaskara bukan ritual sejenis meminta, memohon atau menyembah kepada Tuhan,=
seperti dalam agama lain, tapi tradisi penghormatan ala India saat itu. Dan=
SAAT retret, yg jadi perhatian adalah GERAKAN JASMANI, BUKAN (apa atau=
siapa) yang kita namaskara-i.. Kalau ego kita merasa risih, mungkin ada=
teman yg bisa mengirimkan =93Kisah bhikkhu Potala(maaf lupa tepatnya). Yg=
artinya Bhikkhu kitab suci kosong=94. Inti kisah itu, seorang murid mesti=
punya keyakinan dan rasa hormat kepada Guru pembimbingnya.
Kalau Guru mengajarkan agar kita namaskara, ikuti sebagai ungkapan rasa=
hormat dan terima kasih, sama sekali bukan sebagai penyembahan ke pada=
seorang dewa atau tuhan. Kalau Guru bilang tak perlu, ya sudah ikuti juga.=
Jangan namaskara dianggap menjadi problem. Anggap itu sebagai =93uang=
sekolah=94 yg mesti kita bayar untuk mendapatkan ilmu.
Pak Hudoyo:
[=85.]
Saya katakan, bahwa dalam retret MMD, 'berjalan sangat lambat' bukan NORMA=
yang harus dipertahankan dalam praktik. 'Berjalan lambat' hanyalah=
dilakukan dalam praktik 'meditasi jalan', dan tidak harus dilakukan dalam=
setiap keadaan berjalan, seperti berjalan ke ruang makan, berjalan ke=
toilet, ke kamar tidur dsb. 'Berjalan lambat' itu pun harus dipahami=
sebagai HASIL/DAMPAK dari konsentrasi yang kuat dalam 'meditasi jalan';=
bukan sebaliknya, bukan 'berjalan SENGAJA diperlambat' AGAR konsentrasi=
bisa kuat, seperti paparan Anda tentang meditasi jalan versi Mahasi. Itulah=
pemahaman tentang 'jalan lambat' dalam versi vipassana MMD, yang jelas=
berbeda dengan versi Myanmar.
--------------
GV:
Seingat saya Chanmyay Sayadaw menjelaskan, saat ke kuti, ke ruang makan,=
atau menuju ke satu tempat, cukup memakai hitungan KANAN KIRI dan berjalan=
dg kecepatan biasa, saja. Itu SUDAH CUKUP untuk mempertahankan=
KESINAMBUNGAN perhatian penuh.=20
Demikian arahan Vipassana dari para Bhikkhu yang saya dapat atau tangkap.=
Kalau ada yg menangkap lain, silahkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi=
lebih jelas sesuai adanya.
Mana yg lebih cepat, bagus atau baik antara kedua cara ini, saya tidak tahu.=
Tapi kalau kita memang mau mencari manfaatnya, tentu kita akan mendapatkan=
dari kedua cara tersebut. Saling melengkapi, mungkin tepatnya, selanjutnya=
baru kita memilih mana yg lebih cocok.
Salam metta,
Gunavijayo
=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D=3D=3D=3D=3D
HUDOYO:
Bpk Gunavijayo yg baik,
Sebelum saya menanggapi substansi posting Anda, izinkan saya mengulangi=
pernyataan sikap yang sudah berulang-ulang saya nyatakan dalam diskusi ini:
"Tidak ada satu versi vipassana mana pun yang cocok untuk semua orang."
Apakah Bpk setuju dengan pandangan & sikap seperti itu? Kalau setuju,=
diskusi ini dapat diteruskan. Sikap seperti ini pada dasarnya sesuai dengan=
prinsip 'Pluralisme' dalam wacana keagamaan.=20
Tetapi, kalau ada satu pihak dalam diskusi ini berpendapat bahwa 'versi-KU=
seharusnya dipraktikkan oleh semua orang', maka hal itulah yang menjadi=
sumber kesalahpahaman dan kemungkinan ketersinggungan dalam diskusi ini.=
Sikap seperti itu tidak lebih daripada sikap 'Eksklusivisme' dalam wacana=
keagamaan.
***
Kembali kepada topik diskusi, tentang ritual (namaskara, minta delapan sila,=
baca paritta permohonan maaf dsb):
Perlu dipahami bahwa ritualisme apa saja, di agama mana saja, selalu=
mempunyai motif yang baik, yang positif. Bpk telah menjelaskan panjang=
lebar makna namaskara; Andrew telah menjelaskan panjang lebar tentang=
paritta permohonan maaf, dsb. Tidak ada ritual di agama mana pun yang tidak=
mempunyai motif baik. Semua uraian Anda dipahami dengan jelas. Saya paham=
sepenuhnya, landasan pemikiran itulah yang mendasari diadakannya=
ritual-ritual itu dalam retret vipassana tradisional. Semua itu adalah=
'perbuatan baik' (kusala karma). Teman-teman yang merasa perlu melakukan=
ritual seperti itu--bahkan yang menganggap ritual-ritual itu sebagai=
kebutuhan seperti orang butuh mandi--sangat saya anjurkan untuk mengikuti=
vipasssana tradisional, tetapi tidak mengikuti retret MMD.
Nah, sekarang saya merasa perlu menjelaskan kepada forum, landasan pemikiran=
apakah yang mendasari tidak dilakukannya ritual apa pun dalam vipassana=
versi MMD maupun vipassana versi Goenka:
Menurut pemahaman MMD, vipassana bertujuan langsung dan radikal untuk=
memahami gerak-gerik si aku (atta). Si aku (atta) ini terus-menerus ingin=
melakukan perbuatan-perbuatan baik (dan buruk), semuanya demi untuk=
kepentingannya sendiri. Di dalam retret MMD, pemeditasi tidak menurutkan=
keinginan-keinginan untuk melakukan perbuatan baik (apalagi buruk), karena=
selama keinginan seperti itu ada maka aku/atta ini tidak akan pernah padam.=
Dalam retret MMD, peserta tidak berupaya untuk rendah hati, tidak berupaya=
untuk berterima kasih, tidak berupaya untuk menjalankan delapan sila, tidak=
berupaya untuk mohon maaf, tidak berupaya untuk memancarkan kasih sayang,=
dsb dsb. Dalam retret MMD, semua keinginan dari si aku/atta, yang bertujuan=
baik (kusala) ini, sekadar disadari saja pada saat timbulnya sehingga tidak=
tercetus menjadi perbuatan atau menjadi ritual. Kalau ini dilakukan=
terus-menerus, hasilnya adalah padamnya si aku/atta ini, sekalipun hanya=
padam untuk satu detik, dua detik atau sepuluh detik, dst. Padamnya=
aku/atta untuk sementara inilah yang dikatakan oleh YM Buddhadasa Mahathera=
"mencicipi nibbana". Padamnya aku untuk sementara ini dialami dengan=
relatif cepat oleh pemeditasi MMD yang terus-menerus mengamati gerak-gerik=
si aku/atta yang ingin berbuat baik. Padamnya aku/atta untuk sementara ini=
sukar dialami oleh pemeditasi yang masih dipenuhi dengan keinginan=
siaku/atta untuk berbuat baik, yang masih sibuk dengan upaya si aku/atta=
untuk ber-vipassana sesuai petunjuk/aturan, mengatur langkah selambat=
mungkin, menggerakkan anggota tubuh selambat mungkin (misalnya dalam=
ber-namaskara) dsb. Padamnya aku/atta inilah yang tercermin dalam posting=
Siska Marsudhy baru-baru ini & saya kutip kembali di bawah ini.
Mungkin ada yang bertanya: Jadi kalau begitu pemeditasi MMD itu tidak rendah=
hati, tidak berterima kasih (karena tidak bernamaskara), tidak mengenal=
sila (karena tidak minta delapan sila setiap hari), tidak mengenal cinta=
kasih (karena tidak melakukan metta-bhavana selama 10 menit setiap meditasi=
duduk), tidak pernah minta maaf atas kesalahannya (karena tidak membaca=
paritta permohonan maaf)? ... Ah, itu kan cuma permainan pikiran yang=
terjebak dalam dualisme: kalau tidak begini, pasti begitu (lawannya) ...=20
Sekali lagi, berterima kasih, rendah hati, memegang sila, memancarkan metta=
dan minta maaf, dsb itu adalah cetana (gerak pikiran) yang bersifat baik=
(kusala), yang akan membawa pada kelahiran di alam dewa. Menurut pemahaman=
MMD, semua cetana (gerak pikiran) yang berasal dari si aku/atta itu harus=
disadari ketika muncul, sehingga tidak ada kelanjutannya & lenyap kembali,=
termasuk gerak pikiran yang baik. Menurut pemahaman MMD, dalam vipassana=
menyadari si aku/atta itulah yang utama, bukannya menuruti segala keinginan=
untuk berbuat baik (kusala) atau tidak baik (akusala).
Pemahaman MMD dan vipassana versi Goenka ini didasarkan pada ajaran Sang=
Buddha sendiri bahwa 'kelekatan pada ritualisme' (yang semuanya bertujuan=
baik), 'silabattaparamasa', justru adalah salah satu belenggu yang harus=
patah pertama kali sebelum orang mencapai tingkat kesucian pertama. Dalam=
MMD dan vipassana versi Goenka, pematahan kelekatan pada ritualisme ini=
harus dimulai pada saat sekarang di dalam retret, secara intelektual dan=
tercermin dalam sikap mental.=20
(Namun itu tidak berarti bahwa retret MMD bersikap a priori dalam hal ini.=
Dalam retret yang lalu di BVA--dan dalam retret-retret MMD yang=
lain--setelah saya jelaskan landasan pemikiran MMD terhadap ritualisme=
seperti di atas, saya lihat ada beberapa peserta yang tetap ber-namaskara=
ketika masuk dan keluar Dharmasala. Mereka ini saya biarkan saja. Kalau=
dilarang, pelarangan itu malah tidak benar, karena menjadi a priori dan=
eksklusif, dan menimbulkan konflik dalam batin orang yang pemahamannya=
memang berbeda.)
***
Belum lagi bila ada yg bertanya,=94Lalu bagaimana dg Sholat, yg masih=diijinkan saat MMD?=94 :)
-----
Pertanyaan ini sangat bagus, karena menyangkut teman-teman Muslim yang=
mengikuti retret vipassana. SHOLAT adalah suatu KEWAJIBAN bagi kaum Muslim.=
Berbeda dengan namaskara yang BUKAN KEWAJIBAN. (Saya tidak MELARANG orang=
melakukan ritual dalam retret MMD; saya hanya memberikan penjelasan=
mengenai dasar pemahaman dan sikap batin yang semestinya dalam retret MMD.)=
=20
Kewajiban sholat bagi seorang Muslim tidak terlepas dari suatu paradigma=
keagamaan yang khas Islam, yakni sebagai PERINTAH DARI ALLAH. Setiap agama=
punya paradigmanya sendiri. (Paradigma Kristen, misalnya, ialah bahwa Yesus=
adalah Allah Putra yang turun ke dunia menebus dosa manusia; paradigma=
Agama Buddha ialah bahwa Sang Buddha Gotama adalah satu-satunya guru yang=
membabarkan jalan pembebasan di zaman ini.) RETRET MMD TIDAK DIMAKSUDKAN=
UNTUK MEMBONGKAR PARADIGMA-PARADIGMA KEAGAMAAN SEPERTI ITU. Dengan kata=
lain, retret MMD tidaklah bermaksud membongkar IMAN para penganut=
agama-agama yang mengikuti retret MMD.=20
Pemahaman paradigmatik peserta MMD berkaitan dengan imannya masing-masing=
tidaklah dikutik-kutik dalam retret MMD. Pemahaman itu akan berkembang=
selaras dengan hidayah yang diterima oleh setiap orang dalam hubungannya=
dengan yang diimannya itu. Perkembangan paradigmatik itu tampak misalnya=
pada pengalaman batin Bernadette Roberts, ketika mengalami runtuhnya=
dirinya bersama LENYAPNYA TUHAN, dua puluh tahun setelah ia mengalami=
"penyatuan dengan Tuhan" menurut paradigma mistikal Kristen. Namun sekali=
lagi, itu bukan urusan retret MMD. Retret MMD hanya menjelaskan posisinya=
berkaitan dengan ritualisme pada awal ketika retret dimulai. Selebihnya=
terserah para praktisi itu sendiri, mau diikuti atau tidak.
Saya sudah cukup mendalam berbicara mengenai masalah ini dengan sahabat=
saya, H. Sutarman, seorang haji pemeditasi MMD yang sudah beberapa kali=
mengikuti retret MMD Seminggu. Saya sendiri tidak kompeten menyoroti=
masalah ini dari sudut pandang Islam. Oleh karena itu, saya undang Mas=
Sutarman untuk ikut mengemukakan pandangannya sebagai seorang Muslim, bila=
Anda membaca posting ini.
KESIMPULAN SAYA: Tetap seperti semula: Tidak ada satu versi vipassana mana=
pun yang cocok untuk SEMUA orang.
Sekian dulu,=20
Salam,
Hudoyo
=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
ANDREW:
(snip)
Selain ekperimen diatas saya juga mengajak sidang pembaca untuk=
bereksperimen dengan 'upaya'
ketika anda mengamati atau menyadari proses pada saat, misalkan meditasi=
duduk melihat naik dan
turunnya perut, apakah anda MENGARAHKAN batin anda untuk mengamati atau=
tiba-tiba pikiran anda
bisa sadar ke sensasi perut yang naik turun?=20
(snip)
=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
SISKA MARSUDHY:
Saya agak curious karena untuk saya, kasus yang kedua ('tiba-tiba pikiran=
bisa sadar ke sensasi perut yang naik turun') kadang-kadang terjadi pada=
saya. Malah kadang, terjadi di saat saya sedang sibuk bekerja di kantor.=
Kalau dipikir, batin yang terarah secara tiba-tiba ini biasanya malah lebih=
'fokus'(?) dan tenang daripada kalau sedang meditasi formal dan 'sengaja'=
mengarahkan batin.=20
=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=3D=
=3D=3D
HUDOYO:
Anda sudah terlatih berada dalam kesadaran vipassana/MMD selama seminggu=
penuh, dalam beberapa kali retret MMD. Tidak mengherankan bahwa Anda bisa=
mengalami "sadar tanpa upaya" ini, bahkan dalam kesadaran sehari-hari=
ketika tidak sedang dalam retret.=20
Ini yang sukar dialami oleh pemeditasi vipassana yang menggunakan pendekatan=
lain, pendekatan si 'aku' yang terus berupaya untuk "ber-vipassana".
Tidak ada satu versi vipassana yang cocok untuk semua orang.=20
.
- Prev by Date: I Feel Good !!
- Next by Date: pantasi.
- Previous by thread: re : MMD MEMANG BERBEDA!
- Next by thread: re : MMD MEMANG BERBEDA!
- Index(es):
Relevant Pages
|