Fwd: TERIMA KASIH -- Parapariya Theragatha



Rekan pembaca sekalian,

Pada tgl 19 s/d 21 Agustus 2006 yg lalu Magabudhi, Wandani dan Patria Cabang Kabupaten Tangerang telah mengadakan Kursus Dhammaduta bertempat di Vihara Vipassana Giriratana, Gunung Sindur, Bogor. Kursus itu diikuti oleh 40+ peserta.

Dalam kursus itu saya ditugasi untuk memberikan teori & praktek meditasi dalam 2 sesi, masing-masing dari pk 19 - pk 21: tgl 19/8 tentang meditasi ketenangan/konsentrasi (samatha-bhavana), dan tgl 20/8 tentang meditasi pencerahan (vipassana-bhavana).

Tak disangka-sangka, sesi meditasi vipassana telah membuka mata seorang peserta muda. Dalam acara tanya-jawab, tampak bahwa peserta muda ini sangat menguasai berbagai teori/ajaran Agama Buddha.

Antara lain, ia bertanya: "Sang Buddha mencapai Pencerahan Sempurna melalui anapanasati (meditasi pernapasan). Bagaimana mungkin anapanasati--yang termasuk meditasi ketenangan--bisa menghasilkan pencerahan?"

Memang, sekalipun anapanasati dikategorikan meditasi ketenangan, tapi dalam Anapanasati-sutta dipaparkan suatu proses di mana dengan anapanasati semata-mata sebagai landasan diperoleh pencerahan mengenai badan jasmani, perasaan, kesadaran, dan bentuk-bentuk batin, hingga tercapai pembebasan sempurna (nibbana).

Seorang guru vipassana, alm. Buddhadasa Mahathera, menggunakan anapanasati sebagai acuan metode meditasi beliau. Beliau mengecam sutta-sutta baku seperti Satipatthana-sutta dan Maha-satipatthana-sutta sebagai "tidak lebih dari daftar bertele-tele dari berbagai obyek meditasi, dan tidak memberikan tuntunan praktis apa pun untuk vipassana."

Di lain pihak, 'mainstream' bhikkhu-bhikkhu guru vipassana menggunakan Satipatthana-sutta dan Maha-satipatthana-sutta sebagai acuan metode mereka. Maka berkembanglah berbagai "metode" vipassana di dunia, antara lain yang paling terkenal adalah "metode Mahasi Sayadaw" dan "metode S.N. Goenka", di samping "metode Buddhadasa" sendiri.

Saya sendiri tidak mengajarkan metode apa pun, bukan "metode Mahasi Sayadaw" bukan pula "metode S.N. Goenka" atau "metode Buddhadasa". Saya pun tidak menggunakan acuan Anapanasati-sutta, Satipatthana-sutta atau Maha-satipatthana-sutta. Acuan saya dari ajaran Sang Buddha adalah Bahiya-sutta, uraian paling singkat tentang vipassana tanpa mengandung "metode" apa-apa:

"Bahiya, berlatihlah seperti ini: di dalam apa yang terlihat, hanya ada yang terlihat; di dalam apa yang terdengar, hanya ada yang terdengar; di dalam apa yang tercerap oleh indra, hanya ada yang tercerap oleh indra; di dalam apa yang dikenal [oleh pikiran], hanya ada yang dikenal. Demikian hendaknya engkau berlatih.

?Jika bagimu di dalam apa yang terlihat hanya ada yang terlihat ... <dst> ..., maka tidak ada engkau dalam kaitan dengan itu. Jika tidak ada engkau dalam kaitan dengan itu, tidak ada engkau di situ. Jika tidak ada engkau di situ, engkau tidak ada di sini, tidak ada di sana dan tidak ada di antaranya. Inilah, dan hanya inilah, akhir dari dukkha."

Peserta muda itu tampak amat terkesan. Ia sempat berkata, "Wah, nanti malam bakal tidak bisa tidur."

Kemarin sore, saya menerima email dari dia. Berikut ini saya tayangkan emailnya--beserta tanggapan saya--dengan menghapus identitas dirinya.

Salam,
Hudoyo

==================================================
Dari: Rekan B. (peserta Kursus Dhammaduta di Vihara Vipassana Giriratana, G. Sindur, Bogor, 19 - 21 Agustus 2006)

Romo Hudoyo,

Sesi vipassana pada hari minggu malam kemarin di Vihara Vipassana Giriratana benar-benar sangat berarti. Rasanya seperti disiram air, semuanya terasa sangat jelas sekali sekarang. Bahkan tekad untuk menjadi seorang DhammaDuta pun rasanya sudah goyah, rasanya ingin memfokuskan pada meditasi saja.
Sekali lagi Terima kasih banyak romo.

Walaupun saya sudah menjadi upasaka selama 15 tahun, pada tahun ini lah kulminasinya. Awal tahun ini merupakan titik dimana saya merasa 'muak' dan capai dengan hidup karena tidak bisa menemukan pemuasan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Mungkin bahasa awamnya adalah 'panggilan'. Karena itulah saya mulai menjadi sangat rajin menggali literatur, membaca buku, melakukan meditasi.
Sebelumnya saya sudah banyak membaca buku2x tentang Vipassana
A Guide to Awareness - HH Somdet Phra Nyanasamvara
Anapanasati - Mindfulness of Breathing ? Ven. Buddhadasa Bhikkhu
Kamatthana meditation - Mahasi Sayadaw
dan banyak buku2x yang berdasarkan anapassati sutta dan satipatthana sutta. Semua sudah saya coba tanpa ada pembimbing. Saya juga akan segera mendaftar untuk sesi di Siripada November nanti.

Selain itu romo, tulisan romo yang dimasukkan ke dalam diktat tentang Meditasi Mengenal Diri. Saya ingin meminta ijin romo apakah romo ingin menerbitkannya dalam bentuk eBook (PDF), mengingat sangat berguna untuk siapa saja. Kalau boleh text yang disediakan di dalam yahoogroups milis juga boleh.

Metta,
B.
====================================================
HUDOYO:

Wah, ... luar biasa, Rekan B. -- merinding rasanya bulu kuduk saya.
Saya merasa sangat berbahagia, ber-mudita-citta (ikut berbahagia), dengan pencerahan yang baru saja Anda capai.

Di bawah ini, sebagai kenang-kenangan dari saya, saya sampaikan terjemahan saya dari syair Theragatha 257, "Parapariya Thera". Syair ini dulu pada th 1970 pernah mengilhami saya untuk menjadi bhikkhu, sekalipun cuma selama dua tahun.

Salam,
Hudoyo

====================================================

Dari: "Kidung Para Sesepuh" (Theragatha, 257)

PARAPARIYA

[Parapariya Thera adalah seorang arahat yang bermeditasi sendirian di hutan. Ketika menjelang ajalnya, beliau merenungkan zaman ketika Buddha-sasana (Agama Buddha) sudah rusak dan para bhikkhu hanya mengejar kepuasan nafsunya sendiri.]

Inilah gagasan-gagasan yang muncul
dalam batin seorang Thera,
sambil duduk di bawah naungan bunga-bunga indah
di Hutan Raya (Mahavana) pohon Sala,
sendirian dan tak peduli:

"Betapa perilaku para Bhikkhu berubah
sejak ketika Sang Penakluk Dunia,
Manusia Sempurna masih hidup di dunia!

"Jubah pelindung dari angin dingin,
untuk menutup apa yang perlu ditutup,
cukup, tidak lebih mereka cari,
dengan puas menikmati apa yang diperoleh.

"Makanan yang lezat atau tidak,
banyak atau sedikit, mereka makan
untuk pertahankan hidup,
bebas dari dorongan kerakusan.

"Kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup,
dan obat-obatan sebagai alat untuk hidup;
mereka tak menggebu-gebu mempedulikannya
seperti peduli bagaimana memusnahkan racun pikiran.

"Di hutan lebat di bawah naungan pepohonan,
di gua-gua, di pangkuan batu padas,
belajar melepas dan melatih [batin]--
begitulah mereka hidup, membuatnya menjadi pencarian seketika.

"Jiwa yang merendah, rendah hati, dan hidup sederhana,
lembut hati, dengan batin lentur dan sesuai,
tindak-tanduk yang sopan, tanpa bicara kasar,
mengharapkan kebaikan [orang lain dan diri sendiri].

"Menyenangkan dan indah dalam hidup mereka--
tindakan, kesukaan, daya upaya mereka--
seperti aliran minyak yang halus.

"Bagi mereka semua kotoran batin telah mati,
tegak di dalam Jhana, tegak selamanya;
Kini semua Thera itu telah tiada.
sedikit yang seperti mereka kini ada.

***

"Karena kurangnya lingkungan yang baik dan pencerahan,
Peraturan (Vinaya) Sang Penakluk, penuh dengan
apa yang terbaik dalam rencana dan cara,
runtuh dan melapuk.

"Keadaannya buruk dan zaman ini rusak,
Di mana bahkan mereka yang telah mulai
hidup melepaskan diri, dan kepada hal-hal yang lebih tinggi
yang masih belum [tercapai]--bahkan mereka

"Dari tumbuh cepatnya semua yang merusak,
berpengaruh buruk terhadap banyak orang.
Kurasa mereka mempermainkan [hati nurani] orang-orang bodoh
seperti setan-setan mempermainkan orang gila.

"Terlanda kerusakan, orang-orang ini--
mengejar ke sana ke mari apa yang rusak,
seperti orang yang berteriak mengatakan
apa yang diperolehnya--

"Mereka bertengkar di antara sesamanya, meninggalkan
Dharma yang penuh berkah, dan mengejar kesalahan,
mengira: Nah! Ini lebih baik, ini yang terbaik.

"Mereka yang telah berpaling dari kekayaan dan istri
dan anak-anak, dan meninggalkan rumah,
untuk sedekah yang sedikit saja, mau melakukan
hal-hal yang tak patut bagi mereka.

"Mereka makan sampai kenyang benar,
lalu berbaring terlentang,
dan ketika jaga, bercakap-cakap
tentang hal-hal yang dikecam oleh Sang Guru.

"Semua seni dan ketrampilan mereka hargai tinggi
dan lakukan--begitulah tugas Bhikkhu pada pikiran mereka
sementara mengabaikan penaklukan batin.

"Dan tanah liat, dan minyak dan bedak mandi,
air dan makanan dan penginapan mereka berikan
kepada umat awam dengan harapan dana lebih besar lagi.

"Yah, tusuk gigi juga, dan buah apel,
mahkota bunga untuk dikunyah, dan gulai yang enak,
mangga, jeruk, kelapa dan kenari.

"Menyediakan obat-obatan, mereka bertindak bagaikan dokter,
dalam bisnis mereka tak ubahnya seperti umat awam,
seperti pelacur mereka memamerkan pakaiannya,
dan bercanda dengan penguasa seperti orang bangsawan.

"Mereka pezina, penipu dan pembohong,
tanpa hati nurani, penuh tipu daya,
mereka bebas berkecimpung dalam hal-hal duniawi.

"Melakukan cara-cara yang cocok untuk penipuan,
mencari penghidupan dengan ketrampilan yang licik,
mereka menimbun kekayaan berlimpah.

"Untuk melakukan bisnis, pesamuan itu disebutnya,
Bukan demi kepentingan Dharma yang suci.
Dan ketika mereka berkhotbah kepada umat, keuntunganlah
motifnya, bukan demi kebaikan umat.

"Banyak yang berada di luar Sangha
yang berkelahi dan bertengkar tentang keuntungan Sangha;
mereka jiwa-jiwa yang kurang ajar, tak tahu malu,
yang hidup dari pemberian orang.

"Ada pula yang tak memiliki kesalehan,
sekalipun dengan kepala tercukur, dan mengenakan jubah kuning,
Mengharapkan penghormatan sepanjang waktu,
dan mendambakan perlakuan istimewa, pelayanan dan hadiah.

***

"Begitulah ketika begitu banyak yang runtuh sekarang,
Tidak mudah keadaannya sekarang, seperti dulu,
untuk menyentuh dan mencapai apa yang tak tercapai,
atau berpegang kuat pada apa yang telah tersentuh dan tercapai.

"Seperti orang tanpa kasut berjalan di lahan berduri,
menuntut kewaspadaan pada setiap langkah,
begitu mestinya seorang suci berkeliling di kota.

"Mengenang para suci di masa lampau,
dan mengingat kembali cara hidup mereka,
sekalipun kini masa itu telah lewat,
ia masih mungkin mencapai Kedamaian yang mengatasi keduniaan."

***

Begitulah ujar Bhikkhu yang baik ini di Hutan Sala,
terlatih baik dan terkendali daya-daya batinnya.
Maka Sang Suci mencapai Kepergian yang penuh damai--
Menjadi Saksi yang baginya tak ada kelahiran lagi.

.